A.
Pengertian Tugas-tugas
Perkembangan Masa Remaja
Tugas-tugas perkembangan remaja adalah sikap dan perilaku
dirinya sendiri dalam menyikapi lingkungan di sekitarnya. Perubahan yang
terjadi pada fisik maupun psikologisnya menuntut anak untuk dapat menyesuaikan
diri dalam lingkungan dan tantangan hidup yang ada dihadapannya.
Tugas-tugas perkembangan pada masa remaja yang disertai oleh
berkembangnya kapasitas intelektual, stres dan harapan-harapan baru yang
dialami remaja membuat mereka mudah mengalami gangguan baik berupa gangguan
pikiran, perasaan maupun gangguan perilaku. Stres, kesedihan, kecemasan,
kesepian, keraguan pada diri remaja membuat mereka mengambil resiko dengan
melakukan kenakalan (Fuhrmann, 1990).
B.
Tujuan Tugas Perkembangan
Tugas-tugas dalam perkembangan mempunyai tiga macam tujuan
yang sangat berguna. Pertama, sebagai petunjuk bagi individu untuk mengetahui
apa yang diharapkan masyarakat dari mereka pada usia-usia tertentu. Misalnya,
orang tua dapat dibimbing dalam mengajari anak-anak mereka yang masih kecil
untuk menguasai berbagai keterampilan. Dengan pengertian bahwa masyarakat
mengharapkan anak-anak menguasai keterampilan-keterampilan tersebut pada usia-usia
tertentu dan bahwa penyesuaian diri mereka akan sangat dipengaruhi oleh
seberapa jauh mereka berhasil melakukannya. Kedua, dalam memberi motivasi
kepada setiap individu untuk melakukan apa yang diharapkan dari mereka oleh
kelompok sosial pada usia tertentu sepanjang kehidupan mereka. Dan akhirnya,
menunjukkan kepada setiap individu tentang apa yang akan mereka hadapi dan
tindakan apa yang diharapkan dari mereka kalau sampai pada tingkat perkembangan
berikutnya.
Penyesuaian diri kepada situasi baru selalu sulit dan selalu
disertai dengan bermacam-macam tingkat ketegangan emosional. Tetapi sebagian
besar kesulitan dan ketegangan ini dapat dihilangkan kalau individu sadar akan
apa yang akan terjadi kemudian dan secara bertahap mempersiapkan diri.
Anak-anak yang menguasai keterampilan-keterampilan sosial, diperlukan untuk
menghadapi kehidupan sosial remaja yang baru, akan lebih mudah menyesuaikan
diri dengan lawan jenisnya bila mereka mencapai usia remaja, dan yang baru
menginjak dewasa akan lebih mudah melewati masa peralihan ke masa usia
pertengahan. Dan tidak terlampau mengalami ketegangan kalau mereka secara
bertahap menciptakan kegiatan-kegiatan waktu senggang dengan berkurangnya
tanggung jawab sebagai orang tua.
C.
Bahaya Tugas-tugas Perkembangan
Karena tugas-tugas perkembangan memegang peranan penting
untuk menentukan arah perkembangan yang normal, maka apapun yang menghalangi
penguasaan sesuatu dapat dianggap sebagai bahaya potensial. Ada tiga macam
bahaya potensial yang umum berhubungan dengan tugas-tugas dalam perkembangan.
Pertama, harapan-harapan yang kurang tepat, baik individu sendiri maupun
lingkungan sosial mengharapkan perilaku yang tidak mungkin dalam perkembangan
pada saat itu karena keterbatasan kemampuan fisik maupun psikologis.
Bahaya potensial kedua adalah melangkahi tahap tertentu dalam
pengembangan sebagai akibat kegagalan menguasai tugas-tugas tertentu. Krisis
yang dialami individu ketika melewati satu tingkatan ke tingkatan yang lain
mengandung bahaya potensial ketiga yang umum yang muncul dari tugas-tugas itu
sendiri. Sekalipun individu berhasil menguasai tugas pada suatu tahap secara
baik, namun keharusan menguasai sekelompok tugas-tugas baru yang tepat untuk
tahap berikutnya pasti akan membawa ketegangan dan tekanan kondisi-kondisi yang
dapat mengarah pada suatu krisis. Misalnya, orang yang masa kerjanya akan
berakhir sering mengalami “krisis pensiun”, dimana ia merasa bahwa prestise dan
kepuasan pribadi yang berhubungan dengan pekerjaan akan berakhir juga.
Lambat atau cepat semua orang akan sadar bahwa mereka
diharapkan menguasai tugas-tugas tertentu pada berbagai periode sepanjang hidup
mereka. Setiap individu juga menjadi sadar bahwa dirinya “terlalu cepat”,
“terlambat” atau “tepat” dalam kaitannya dengan tugas-tugas ini. Kesadaran
inilah yang mempengaruhi sikap dan perilaku mereka sendiri, demikian pula sikap
orang lain terhadap mereka.
D.
Tugas-tugas Perkembangan Remaja dan
Pengukurannya
Salah satu periode dalam rentang kehidupan individu adalah
masa (fase) remaja. Masa ini merupakan segmen kehidupan yang penting dalam
siklus perkembangan individu, dan merupakan masa transisi yang dapat diarahkan
kepada perkembangan masa dewasa yang sehat (Konopka, dalam Pikunas, 1976;
Kaczman & Riva, 1996).
Masa remaja ditandai dengan (1) berkembangnya sikap dependen
kepada orangtua ke arah independen, (2) minat seksualitas; dan (3)
kecenderungan untuk merenung atau memperhatikan diri sendiri, nilai-nilai
etika, dan isu-isu moral (Salzman dan Pikunas, 1976).
Erikson (Adams & Gullota, 1983:36-37; Conger, 1977:
92-93) berpendapat bahwa remaja merupakan masa remaja merupakan masa
berkembangnya identity. Identity merupakan vocal point dari pengalaman remaja,
karena semua krisis normatif yang sebelumnya telah memberikan kontribusi kepada
perkembangan identitas ini. Erikson memandang pengalaman hidup remaja berada
dalam keadaan moratorium, yaitu suatu periode saat remaja diharapkan mampu
mempersiapkan dirinya untuk masa depan, dan mampu menjawab pertanyaan ‘siapa saya?’.
Dia mengingatkan bahwa kegagalan remaja untuk mengisi atau menuntaskan tugas
ini akan berdampak tidak baik bagi perkembangan dirinya.
Apabila remaja gagal dalam mengembangkan rasa identitasnya,
maka remaja akan kehilangan arah, bagaikan kapal yang kehilangan kompas.
Dampaknya, mereka mungkin akan mengembangkan perilaku yang menyimpang
(delinquent), melakukan kriminalitas, atau menutup diri (mengisolasi diri) dari
masyarakat.
Mulai dari Erikson, banyak para ahli psikologi memandang
bahwa identity formation (pembentukan identitas/jati diri) merupakan tugas
perkembangan utama bagi remaja. Jika remaja gagal atau tidak mendapat kepuasan
dalam menjawab pertanyaan ‘Siapa saya?’ dan ‘Mengapa saya?’ maka mereka akan
mengalami ‘peperangan’ dalam dirinya.
William Kay mengemukakan bahwa tugas perkembangan utama bagi
remaja adalah memperoleh kematangan sistem moral untuk membimbing perilakunya.
Kematangan remaja belumlah sempurna, jika tidak memiliki kode moral yang dapat
diterima secara universal.
Semua tugas perkembangan pada masa remaja dipusatkan pada
pusaka penanggulangan sikap dan pola perilaku yang kekanak-kanakan dan
mengadakan persiapan untuk menghadapi masa dewasa. Menurut Hurlock (1991) tugas
perkembangan pada masa remaja adalah sebagai berikut:
1.
Berusaha mampu menerima keadaan fisiknya.
2.
Berusaha mampu menerima dan memahami peran seks usia dewasa.
3.
Berusaha mampu membina hubungan baik dengan anggota kelompok yang berlainan
jenis.
4.
Berusaha mencapai kemandirian emosional
5.
Berusaha mencapai kemandirian ekonomi.
6.
Berusaha mengembangkan konsep dan keterampilan-keterampilan intelektual yang
sangat diperlukan untuk melukukan peran sebagai anggota masyarakat.
7.
Berusaha memahami dan mengintemalisasikan nilai-nilai orang dewasa dan orang
tua.
8.
Berusaha mengembangkan perilaku tanggungjawab sosial yang diperlukan untuk
memasuki dunia dewasa.
9.
Berusaha mempersiapkan diri untuk memasuki perkawinan.
10.
Berusaha memahami dan mempersiapkan berbagai tanggung jawab kehidupan keluarga.
Tugas perkembangan pada masa remaja menuntut perubahan besar
dalam sikap dan pola perilaku anak. Akibatnya, hanya sedikit anak laki-lakilah
dan anak perempuan yang dapat diharapkan untuk menguasai tugas-tugas tersebut
selama awal masa remaja, apalagi mereka yang matangnya terlambat. Kebanyakan
harapan ditumpukkan pada hal ini adalah bahwa remaja muda akan meletakkan
dasar-dasar bagi pembentukan sikap dan pola perilaku. Penelitian singkat
mengenai tugas-tugas perkembangan masa remaja yang penting akan menggambarkan
seberapa jauh perubahan yang harus dilakukan dan masalah yang timbul dari
perubahan itu sendiri. Pada dasarnya, pentingnya menguasai tugas-tugas
perkembangan dalam waktu yang relatif singkat yang dimiliki oleh remaja Amerika
sebagai akibat perubahan usia kematangan yang sah menjadi delapan belas tahun,
menyebabkan banyak tekanan yang mengganggu para remaja.
Tugas-tugas perkembangan fase remaja ini sangat berkaitan
dengan perkembangan kognitifnya, yakni fase operasional formal. Kematangan
pencapaian fase kognitif tingkat ini akan sangat membantu kemampuan dalam
melaksanakan tugas-tugas perkembangannya itu dengan baik. Agar dapat memenuhi
dan melaksanakan tugas-tugas perkembangan ini, remaja memeriukan kemampuan
kreatif. Kemampuan kreatjf ini banyak diwamai oleh perkembangan kognitifhya.
Menurut Havighurst (Hurlock,1990), ada sepuluh tugas
perkembangan remaja yang harus diselesaikan dengan sebaik-baiknya :
1.
Mencapai hubungan baru yang lebih matang dengan teman sebaya baik pria maupun
wanita.
Karena adanya pertentangan dengan lawan jenis yang sering
berkembang selama akhir masa kanak-kanak dan masa puber, maka mempelajari
hubungan baru dengan lawan jenis berarti harus mulai dari nol dengan tujuan
untuk mengetahui hal ihwal lawan jenis dan bagaimana harus bergaul dengan mereka.
Sedangkan pengembangan hubungan baru yang lebih matang dengan teman sebaya
sesama jenis juga tidak mudah.
Mempelajari peran anak perempuan sebagai wanita dan anak
laki-laki sebagai pria, menjadi dewasa diantara orang dewasa, dan belajar
memimpin tanpa menekan orang lain.
Tujuan
:
(1)
Belajar melihat kenyataan anak wanita sebagai wanita, dan anak pria sebagai
pria;
(2)
Berkembang menjadi orang dewasa diantara orang dewasa lainnya;
(3)
Belajar bekerja sama dengan orang lain untuk mencapai tujuan bersama;
(4)
Belajar memimpin orang lain tanpa mendominasinya.
Pada usia 14 sampai 16 tahun, mereka sudah cukup memiliki
keterampilan, dan mulai meninggalkan kelompok besar, serta membentuk
kelompok-kelompok kecil, tiga, dua, atau satu orang, sehingga pergaulan mereka
menjadi lebih intim (akrab). Satu hal yang sangat mempengaruhi remaja adalah
dorongan untuk ke dalam suatu kondisi penyesuaian sosial yang baik dalam
keseluruhan hidupnya. Namun apabila gagal, maka dia akan mengalami
ketidakbahagiaan atau kesulitan dalam kehidupannya di masa dewasa, seperti
ketidakbahagiaan dalam pernikahan, kurang mampu bergaul dengan orang lain,
bersifat kekanak-kanakan, dan melakukan dominasi secara sewenang-sewenang.
2.
Mencapai peran sosial pria dan wanita.
Menerima peran seks dewasa yang diakui masyarakat tidaklah
mempunyai banyak kesulitan bagi anak laki-laki, mereka telah didorong dan
diarahan sejak awal masa kanak-kanak. Tetapi halnya berbeda bagi anak
perempuan. Sebagai anak-anak, mereka diperbolehkan bahkan didorong untuk memainkan
peran sederajat, sehingga usaha untuk mempelajari peran feminin dewasa yang
diakui masyarakat dan menerima peran tersebut, seringkali merupakan tugas pokok
yang memerlukan mendapatkan persetujuan kelompok (konformitas).
Keberhasilan remaja dalam menyelesaikan tugas perkembangan
ini mengantarkannya penyesuaian diri selama bertahun-tahun. Remaja dapat
menerima dan belajar peran sosial sebagai pria atau wanita dewasa yang
dijunjung tinggi oleh masyarakat.
3. Menerima keadaan fisiknya dan menggunakannya secara efektif.
Seringkali sulit bagi para remaja untuk menerima keadaan
fisiknya bila sejak kanak-kanak mereka telah mengagungkan konsep meraka tentang
penampilan diri pada waktu dewasa nantinya. Diperlukan waktu untuk memperbaiki
konsep ini dan untuk mempelajari cara-cara memperbaiki penampilan diri sehingga
lebih sesuai dengan apa yang dicita-citakan.Menjadi bangga atau
sekurang-kurangnya toleran dengan kondisi fisiknya sendiri, menjaga dan
melindungi, serta menggunakannya secara efektif.
4.
Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang-orang dewasa lainnya.
Bagi remaja yang sangat mendambakan kemandirian, usaha untuk
mandiri secara emosional dari orang tua dan orang-orang dewasa lain merupakan
tugas perkembangan yang mudah. Namun, kemandirian emosi tidaklah sama dengan
kemandirian perilaku. Banyak remaja yang ingin mandiri, juga ingin dan
membutuhkan rasa aman yang diperoleh dari ketergantungan emosi pada orang tua
atau orang-orang dewasa lain. Hal ini menonjol pada remaja yang statusnya dalam
kelompok sebaya tidak meyakinkan atau yang kurang memiliki hubungan yang akrab
dengan anggota kelompok.
Membebaskan sifat kekanak-kanakan yang selalu menggantungkan
diri pada orang tua, mengembangkan sikap perasaan tertentu kepada orang tua
tanpa menggantungkan diri padanya, dan mengembangkan sikap hormat kepada orang
dewasa tanpa menggantungkan diri padanya..
5.
Mencapai jaminan kebebasan ekonomis.
Kemandirian ekonomis tidak dapat dicapai sebelum remaja
memilih pekerjaan dan mempersiapkan diri untuk bekerja. Kalau remaja memilih
pekerjaan yang memerlukan periode pelatihan yang lama, tidak ada jaminan untuk
memperoleh kemandirian secara ekonomis bilamana mereka secara resmi menjadi
dewasa nantinya. Secara ekonomis mereka masih harus tergantung selama beberapa
tahun sampai pelatihan yang diperlukan untuk bekerja selesai dijalani.
6.
Memilih dan menyiapkan lapangan pekerjaan.
7.
Persiapan untuk memasuki kehidupan berkeluarga.
Kecenderungan kawin muda menyebabkan persiapan perkawinan
merupakan tugas perkembangan yang paling penting dalam tahun-tahun remaja.
Meskipun tabu sosial mengenai perilaku seksual yang berangsur-angsur mengendur
dapat mempermudah persiapan perkawinan dalam aspek seksual, tetapi aspek
perkawinan yang lain hanya sedikit dipersiapkan di rumah, di sekolah dan di
perguruan tinggi. Dan lebih-lebih lagi persiapan tentang tugas-tugas dan
tanggung jawab kehidupan keluarga. Kurangnya persiapan ini merupakan salah satu
penyebab dari “masalah yang tidak terselesaikan” yang oleh remaja dibawa ke
dalam masa dewasa.
8.
Mengembangkan keterampilan intelektual dan konsep yang penting untuk kompetensi
kewarganegaraan.
Sekolah dan pendidikan tinggi menekankan perkembangan
keterampilan intelektual dan konsep yang penting bagi kecakapan sosial. Namun,
hanya sedikit remaja yang mampu menggunakan keterampilan dan konsep ini dalam
situasi praktis. Mereka yang aktif dalam berbagai aktivitas ekstrakurikuler
menguasai praktek sekolah atau karena tidak diterima oleh teman-teman- tidak
memperoleh kesempatan ini.demikian namun mereka yang tidak aktif –karena harus
bekerja setelah
9.
Mencapai dan mengharapkan tingkah laku sosial yang bertanggungjawab.
Erat masalahnya dengan masalah pengembangan nilai-nilai yang
selaras dengan dunia nilai orang dewasa yang akan dimasuki, adalah tugas untuk
mengembangkan perilaku sosial yang bertanggung jawab. Sebagian besar remaja
ingin diterima oleh teman-teman sebaya, tetapi hal ini seringkali dianggap
tidak bertanggung jawab. Misalnya, kalau menghadapi ujian, maka remaja harus
memilih antara standar dewasa dan standar teman-teman.
10.
Memperoleh suatu himpunan nilai-nilai dan sistem etika sebagai pedoman tingkah
laku.
Sekolah dan pendidikan tinggi juga mencoba untuk membentuk
nilai-nilai yang sesuai dengan nilai-nilai dewasa; orang tua berperan banyak
dalam perkembangan ini. Namun bila nilai-nilai dewasa bertentangan dengan
nilai-nilai teman sebaya, maka remaja harus memilih yang terakhir bila
mengharapkan dukungan teman-teman yang menentukan kehidupan sosial mereka.
Tidak
semua remaja dapat memenuhi tugas-tugas tersebut dengan baik. Menurut Hurlock
(1973) ada beberapa masalah yang dialami remaja dalam memenuhi tugas-tugas
tersebut, yaitu:
1.
Masalah pribadi, yaitu masalah-masalah yang berhubungan dengan situasi dan
kondisi di rumah, sekolah, kondisi fisik, penampilan, emosi, penyesuaian
sosial, tugas dan nilai-nilai.
2.
Masalah khas remaja, yaitu masalah yang timbul akibat status yang tidak jelas
pada remaja, seperti masalah pencapaian kemandirian, kesalahpahaman atau
penilaian berdasarkan stereotip yang keliru, adanya hak-hak yang lebih besar
dan lebih sedikit kewajiban dibebankan oleh orangtua.
Erikson
(1968, dalam Papalia, Olds & Feldman, 2001) mengatakan bahwa tugas utama
remaja adalah menghadapi identity versus identity confusion, yang merupakan
krisis ke-5 dalam tahap perkembangan psikososial yang diutarakannya. Tugas
perkembangan ini bertujuan untuk mencari identitas diri agar nantinya remaja
dapat menjadi orang dewasa yang unik dengan sense of self yang koheren dan
peran yang bernilai di masyarakat (Papalia, Olds & Feldman, 2001).
Untuk
menyelesaikan krisis ini remaja harus berusaha untuk menjelaskan siapa dirinya,
apa perannya dalam masyarakat, apakah nantinya ia akan berhasil atau gagal yang
pada akhirnya menuntut seorang remaja untuk melakukan penyesuaian mental, dan
menentukan peran, sikap, nilai, serta minat yang dimilikinya.
Faktor-faktor
yang mempengaruhi penguasaan tugas-tugas perkembangan :
Yang
menghalangi :
1.
Tingkat perkembangan yang mundur.
2.
Tidak ada kesempatan untuk mempelajari tugas-tugas perkembangan atau tidak ada
bimbingan untuk dapat menguasainya.
3.
Tidak ada motivasi.
4.
Kesehatan yang buruk.
5.
Catat tubuh.
6.
Tingkat kecerdasan yang rendah.
Yang
membantu :
1.
Pertumbuhan fisik remaja.
2.
Perkembangan psikis remaja.
3.
Kedudukan atau posisi anak dalam keluarga.
4.
Tingkat perkembangan yang normal atau yang diakselerasikan.
5.
Kesempatan-kesempatan untuk mempelajari tugas-tugas dalam perkembangan dan
bimbingan untuk menguasainya.
6.
Motivasi.
7.
Kesehatan yang baik dan tidak ada catat tubuh.
8.
Tingkat kecerdasan yang tinggi.
9.
Kelancaran pelaksanaan tugas-tugas perkembangan masa sebelumnya.
10.
Kreativitas.
Tidak semua remaja dapat memenuhi tugas-tugas tersebut dengan
baik. Menurut Hurlock (1973) ada beberapa masalah yang dialami remaja dalam
memenuhi tugas-tugas tersebut, yaitu:
1.
Masalah pribadi, yaitu masalah-masalah yang berhubungan dengan situasi dan
kondisi di rumah, sekolah, kondisi fisik, penampilan, emosi, penyesuaian
sosial, tugas dan nilai-nilai.
2.
Masalah khas remaja, yaitu masalah yang timbul akibat status yang tidak jelas
pada remaja, seperti masalah pencapaian kemandirian, kesalahpahaman atau
penilaian berdasarkan stereotip yang keliru, adanya hak-hak yang lebih besar
dan lebih sedikit kewajiban dibebankan oleh orangtua.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Havighrust
mendefinisikan tugas perkembangan, adalah tugas yang muncul pada saat atau
sekitar suatu periode tertentu dari kehidupan individu, yang jika berhasil akan
menimbulkan fase bahagia dan membawa kearah keberhasilan dalam melaksanakan
tugas-tugas berikutnya. Akan tetapi, kalau gagal akan menimbulkan rasa tidak
bahagia dan kesulitan dalam menghadapi tugas-tugas berikutnya.
Semua tugas
perkembangan pada masa remaja dipusatkan pada pusakan penanggulangan sikap dan
pola perilaku yang kekanak-kanakan dan mengadakan persiapan untuk menghadapi
masa dewasa. Ada sejumlah tugas perkembangan remaja yang penting, yaitu :
1. Mencapai hubungan yang baru dan
lebih masak dengan teman sebaya baik sesama jenis maupun lawan jenis
2. Mencapai peran sosial maskulin dan
feminin
3. Menerima keadaan fisik dan dapat
mempergunakannya secara efektif
4. Mencapai kemandirian secara
emosional dari orangtua dan orang dewasa lainnya
5. Mencapai kepastian untuk mandiri
secara ekonomi
6. Memilih pekerjaan dan
mempersiapkan diri untuk bekerja
7. Mempersiapkan diri untuk memasuki
perkawinan dan kehidupan keluarga
8. Mengembangkan kemampuan dan
konsep-konsep intelektual untuk tercapainya kompetensi sebagai warga negara
9. Menginginkan dan mencapai perilaku
yang dapat dipertanggungjawabkan secara sosial
10. Memperoleh rangkaian sistem nilai
dan etika sebagai pedoman perilaku. (Havighurst dalam Hurlock, 1973).
Tidak semua remaja
dapat memenuhi tugas-tugas tersebut dengan baik. Menurut Hurlock (1973) ada
beberapa masalah yang dialami remaja dalam memenuhi tugas-tugas tersebut,
yaitu:
1. Masalah pribadi
2. Masalah khas remaja
B.
Saran
1.
Selalu mencari dukungan dari
orangtua dalam menghadapi masalah.
2.
Seharusnya menjadi manusia yang
mandiri dalam kehidupan masyarakat dan pada saat mengalami kesulitan dalam
bergaul dengan teman sebayanya.
3.
Memiliki tujuan hidup yang
realistik.
4.
Mampu mengembangkan persepsi yang
positif terhadap orang lain dan mencoba berintegrasi dengan keluarga sendiri
secara mandiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar