Mau buat buku tamu ini ?
Klik di sini
Sumber : http://ramadhanlmzero.blogspot.com/2012/12/cara-membuat-buku-tamu-keren-di-blog.html#ixzz3IAOAM1NV

Selasa, 04 November 2014

Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 21, Surat Al-Bayyinah Ayat 5 dan Surat Lukman ayat 13 serta Surat Adz-Dzariat Ayat 56 Tentang Ibadah

Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 21, Surat Al-Bayyinah Ayat 5 dan Surat Lukman ayat 13 serta Surat Adz-Dzariat Ayat 56 Tentang Ibadah

Makalah

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Argumentasi Arwaja
 

                                                                          




Dosen Pengampu :
Dr. H. Abdul Kholid, M.Ag.

Oleh:
Nur Shobihah
Nur Chalimatul Khuriyah
NikmatuL Hijriyah
Nikmaturrohmah

FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS KH. A. WAHAB HASBULLAH (UNWAHA)
BAHRUL ‘ULUM TAMBAKBERAS JOMBANG
2014
BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
       Ibadah adalah tindakan untuk mematuhi perintah dan menjauhi larangan tuhan (Allah) dengan kata lain ibadah ialah suatu orientasi dari kehidupan dan orientasi tersebut hanya tertuju kepada tuhan (Allah) saja. Manusia diciptakan oleh tuhan dan hanya berorientasikan kepada penciptanya yaitu (Allah), sang pencipta yang menumbuhkan dan mengembangkan manusia, Dia yang memelihara, menjaga dan mendidik manusia, Dia pula yang memberi petunjuk kepada manusia, oleh karena itu hanya kepada Dia manusia menyembah
       Terkait dengan masalah ibadah, terdapat beberapa golongan hamba Allah yang sama-sama mengaku sebagai seorang hamba yang taat beribadah. Mereka memiliki berbagai pengertian yang berbeda dalam memahami apa hakikat dari ibadah. Diantaranya ada golongan yang berpendapat bahwa ibadah itu adalah sikap taat dan ketertundukan seorang hamba kepada sang Kholiqnya dalam rangka Ta'abbud kepada-Nya. Akan tetapi mereka kurang memperhatikan hal-hal kecil diluar itu yang terkait dengan ibadah sosial, pergaulan ataupun sikap toleransi dalam sitiap situasi. Ada pula yang berpendapat bahwa dalam ibadah yang menjadi titik tekan adalah bagaimana seorang hamba bersungguh-sungguh tatkala mengerjakan sesuatu, dan sesuatu tersebut bernilai ibadah apabila ia tulus. Akan tetapi mereka acapkali menyepelekan ibadah mahdhoh, seperti sholat, puasa dan lain-lain.
       Kemudian golongan yang terakhir adalah golongan yang dapat menserasikan antara golongan yang pertama dan kedua, mereka dapat mensinergikan antara ibadah mahdhoh dan ibadah ghoiru mahdhoh.Akhir-akhir ini marak para kaum yang mengkaji masalah tersebut dan memunculkan kesimpulan yang aneh ke dalam telingga kita, kemudian bagaimana sikap kita sebagai seorang terpelajar menyikapinya? Oleh karena itu, Makalah ini akan membahas tafsir ayat-ayat ibadah.

B.  Rumusan Masalah

1.       Bagaimana tafsir Surat Al-Baqarah ayat 21 tentang ibadah?
2.      Bagaiamana tafsir Surat Al-Bayyinah ayat 1-5 tentang ibadah?
3.      Bagaiamana tafsir Surat Lukman ayat 13 tentang ibadah?
4.      Bagaimana tafsir Surat Adz-Dzariat ayat 56 tentang ibadah?

C.  Tujuan Penulisan

1.      Untuk mengetahui tafsir Surat Al-baqarah ayat 21 tentang ibadah
2.      Untuk mengetahui tafsir Surat Al-bayyinah ayat 1-5 tentang ibadah
3.      Untuk mengetahui tafsir Surat Al-Lukman ayat 13 tentang ibadah
4.      Untuk mengetahui tafsir Surat Adz-Dzariat ayat 56 tentang ibadah















BAB II
PEMBAHASAN
A.      Tafsir Surat Al-Baqarah ayat 21

$pkš‰r'¯»tƒ â¨$¨Y9$# (#r߉ç6ôã$# ãNä3­/u‘ “Ï%©!$# öNä3s)n=s{ tûïÏ%©!$#ur `ÏB öNä3Î=ö6s% öNä3ª=yès9 tbqà)­Gs? ÇËÊÈ  
21. Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa,
Kata “Yaa ayyuhaa” adalah huruf “nida’” (seruan).
Kata Nida’ ini dalam Al Qur’an ada tujuh bentuk diantarannya adalah sebagai berikut :
1. Nidaa’ madah (seruan pujian) berbentuk kata “Wahai Nabi”
2. Nidaa’ dzamm (seruan celaan) berbentuk kata “Wahai orang- orang Yahudi”
3. Nidaa’ tanbiih (seruan peringatan) berbentuk kata “Wahai Manusia”
4. Nidaa’ idhaafah (seruan tambahan) berbentuk kata “Wahai hamba Ku”
5. NIdaa’ nisbah (seruan dengan menyebut nisbat) berbentuk kata “Wahai anak cucu Adam”
6. Nidaa’ tasmiyah (seruan dengan menyebut nama) berbentuk kata, “Wahai Daud” (salah satu contoh)
7. Nidaa’ ta’niif (seruan sebagai teguran keras) berbentuk kata “Wahai ahli kitab”
MUFRODAH:
Hai manusia
يَاأَيُّهَا النَّاسُ
sembahlah Tuhanmu
اعْبُدُوا رَبَّكُمُ
yang telah menciptakanmu
الَّذِي خَلَقَكُمْ
dan orang-orang yang sebelummu
خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ
agar kamu bertakwa
لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
            Penafsiran Ayat:
               Ibnu Abbas menafsirkan النَّاسُ dengan “orang-orang Mekkah” dan اعْبُدُوْا dengan “tauhid (meng-esakan)” sebagaimana dikutip oleh Syeikh Jalaluddin As-Suyuthi dalam Tafsir Jalalain. Sedangkan menurut jumhur ulama tafsir, yang dimaksud dengan النَّاسُ adalah orang-orang mukallaf (baligh dan berakal) dan yang dimaksud dengan اعْبُدُوْا adalah seluruh aspek yang bernilai ibadah, baik yang pokok maupun cabang.
               Ayat  ini adalah sebuah perintah bagi seluruh manusia untuk menyembah Allah ta'ala. Karena Dialah yang telah menciptakan manusia. Baik  manusia terdahulu ataupun manusia yang akan datang. Perintah menyembah atau beribadah dalam ayat ini memiliki makna yang luas, tidak hanya penyembahan dalam arti ibadah mahdhah saja, melainkan ibdah dalam arti luas. Ayat ini memiliki korelasi yang kuat dengan tujuan dari diciptakannya jin dan manusia, yaitu untuk beribdah kepadaNya saja.
               Dalam ayat ini juga terdapat kewajiban untuk beribadah kepadaNya saja. Karena Alloh adalah Pencipta yang telah memberikan berbagai kenikmatan dan menciptakan manusia dari ketiadaan, Dia juga telah menciptakan umat-umat sebelum kita. Nikmat yang diberikannya berupa nikmat yang nyata dan nikmat yang tidak nampak. Dan menjadikan bumi sebagai tempat tinggal dan tempat berketurunan, bercocok tanam, berkebun, melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat yang lainnya serta manfaat bumi lainnya. Dan Dia juga telah menciptakan langit sebagai sebuah atap bangunan yang telah Dia letakan padanya matahari, bulan dan bintang.
               Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di menyatakan bahwa perintah dalam ayat ini bersifat umum untuk seluruh manusia. Sifat perintahnya sendiri umum yaitu untuk beribadah dengan segala bentuk ibadah, yaitu melaksanakan semua yang diperintahkanNya dan menjauhi yang dilarangNya serta membenarkan kabar-kabarnya.
B.       Tafsir Surat AL-Bayyinah ayat 5

!$tBur (#ÿrâÉDé& žwÎ) (#r߉ç6÷èu‹Ï9 ©!$# tûüÅÁÎ=øƒèC ã&s! tûïÏe$!$# uä!$xÿuZãm (#qßJ‹É)ãƒur no4qn=¢Á9$# (#qè?÷sãƒur no4qx.¨“9$# 4 y7Ï9ºsŒur ß`ƒÏŠ ÏpyJÍhŠs)ø9$# ÇÎÈ  
5. Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus[1595], dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.
[1595] Lurus berarti jauh dari syirik (mempersekutukan Allah) dan jauh dari kesesatan.
            MUFRODAH
Lafadh atau Kalimat
Arti atau Terjemahan
وﻣﺎﺃﻣﺮوﺍ
Mereka tidak disuruh
ﺇﻻﻟﯾﻌﺑﺪوﺍﺍﷲ
Kecuali supaya menyembah Allah
ﻣﺨﻟﺻﻳﻦﻟﻪﺍﻟﺪﻳﻦﺤﻨﻔﺎﺀ
Dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus
وﻳﻗﻳﻣوﺍﺁﻟﺻﻟوﺓوﻳﺅﺘوﺍﺁﻟﺯ
ﻛوﺓۚ
Dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat;
وﺫﻟﻙﺪﻳﻥﺁﻟﻘﻳﻤﺔ
Dan yang demikian itulah agama yang lurus
            Tafsirnya
                 Adapun yang dimaksud dengan ahlul kitab adalah orang-orang yahudi dan nasrani. Sedang yang dimaksud orag-orang-orang musyrik adalah para penyembah berhala, dan api, baik arab maupun non arab. Uluf Jahid mengatakan keadaan mereka “ tidak akan meninggalkan” yaitu tidak akan berhenti sehingga kebenaran begitu jelas dihadapa mereka, sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata, yaitu Al-Qur’an yang mulia ini.
                 Firman Allah SWT “ didalamnya terdapat kitab-kitab yang lurus”, yaitu yang adil dan lurus, tidak ada kesalahan didalamnya yang lurus bertulah dari kemusyrikan maupun tauhid. Sebab itu semua dating dari sisi Allah Ta’ala.
“Tidaklah berpecah belah orang-orang yang didatangkan al-kitab melainkan sesudah datang
Isi Kandungan Surah Al-Bayyinah ayat 5
a.       Manusia diciptakan hanya untuk menyembah kepada Allah SWT
b.      Manusia diwajibkan mengingat Allah SWT diwaktu berdiri, duduk, maupun berbaring Firman Allah SWT
c.       Menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dengan menjauhkan diri dari sifat-sifat kemusyrikan. Artinya menjalankan agama haruslah dengan lurus, yaitu jauh dari syirik dari kesesatan-kesesatan.
Wujud dari sifat musyrik dapat dikelompokkan sebagai berikut :
1)      Percaya adanya Allah, tetapi tidak mau melaksanaka perintah-Nya,
2)      Memutuskan perkara tidak sesuai dengan ketentuan Allah padahal ia mengetahui dan menyakini kebenaran hukum Allah SWT,
      Firman Allah SWT :
ö/ä3ósu‹ø9ur ã@÷dr& È@ŠÅgUM}$# !$yJÎ/ tAt“Rr& ª!$# ÏmŠÏù 4 `tBur óO©9 Nà6øts† !$yJÎ/ tAt“Rr& ª!$# y7Í´¯»s9'ré'sù ãNèd šcqà)Å¡»xÿø9$# ÇÍÐÈ  
Artinya : Dan hendaklah orang-orang pengikut injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah didalamnya. Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik. ( Q.S. Al-Maidah : 47 )
d.      Allah memerintahkan supaya manusia menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan-Nya dan tidak menyekutukan Allah dan berbuat baik kepada ibu bapak, kerabat, anak-anak yatim, orang miskin, tetangga baik yang dekat maupun yang jauh, ibnu sabil dan hamba sahaya. Firman Allah SWT :
* (#r߉ç6ôã$#ur ©!$# Ÿwur (#qä.ÎŽô³è@ ¾ÏmÎ/ $\«ø‹x© ( Èûøït$Î!ºuqø9$$Î/ur $YZ»|¡ômÎ) “É‹Î/ur 4’n1öà)ø9$# 4’yJ»tGuŠø9$#ur ÈûüÅ3»|¡yJø9$#ur Í‘$pgø:$#ur “ÏŒ 4’n1öà)ø9$# Í‘$pgø:$#ur É=ãYàfø9$# É=Ïm$¢Á9$#ur É=/Zyfø9$$Î/ Èûøó$#ur È@‹Î6¡¡9$# $tBur ôMs3n=tB öNä3ãZ»yJ÷ƒr& 3 ¨bÎ) ©!$# Ÿw =Ïtä† `tB tb%Ÿ2 Zw$tFøƒèC #·‘qã‚sù ÇÌÏÈ  
Artinya : Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya mu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri, (Q.S. An Nisa : 36).
e.       Keikhlasan dalam beribadah hakekatnya tidak dapat dipisahkan dengan niat ikhlas. Niat dalam kaitannya dengan pelaksanaan ibadah dikelompokkan menjadi tiga, yaitu :
a)      Niat ibadah, yaitu menghinakan diri dan tunduk secara sempurna untuk menyatakan kehinaan dan kehambaan,
b)      Niat Taat, yaitu melaksanakan apa yang Allah kehendaki,
c)      Niat kuban, yaitu melaksanakan ibadah dengan maksud dapat pahala,

Menurut Manazilus-Sa’irin, ikhlas itu ada tiga derajat, yaitu :
a)      Tidak melihat amal sebagai amal, tidak mencari imbalan dari amal dan tidak puas terhadap amal,
b)      Malu terhadap amal sambil tetap berusaha. Artinya merasa amalnya itu belum layak dilakukan karena Allah, tetapi ama itu tetap diupayakan.
c)      Memurnikan amal, maksudnya adalah melakukan amal berdasarkan ilmu agama.

Tingkatan-tingkatan Ikhlas dalam ibadah :
a)      Melaksanakan ibadah karena takut akan azab.
Firman Allah SWT :
tûïÏ%©!$#ur tbqè?÷sム!$tB (#qs?#uä öNåkæ5qè=è%¨r î's#Å_ur öNåk¨Xr& 4’n<Î) öNÍkÍh5u‘ tbqãèÅ_ºu‘ ÇÏÉÈ  
Artinya : Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (Karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka ( Al-Mukminun : 60 )
b)      Melaksanakan ibadah karena membesarkan Allah. Beribadah karena sesuatu maksud keduniawian disebut riya’, syirik.
C.      Tafsir Surat Lukman ayat 13-17

 øŒÎ)ur tA$s% ß`»yJø)ä9 ¾ÏmÏZö/ew uqèdur ¼çmÝàÏètƒ ¢Óo_ç6»tƒ Ÿw õ8ÎŽô³è@ «!$$Î/ ( žcÎ) x8÷ŽÅe³9$# íOù=Ýàs9 ÒOŠÏàtã ÇÊÌÈ   $uZøŠ¢¹urur z`»|¡SM}$# Ïm÷ƒy‰Ï9ºuqÎ/ çm÷Fn=uHxq ¼çm•Bé& $·Z÷dur 4’n?tã 9`÷dur ¼çmè=»|ÁÏùur ’Îû Èû÷ütB%tæ Èbr& öà6ô©$# ’Í< y7÷ƒy‰Ï9ºuqÎ9ur ¥’n<Î) 玍ÅÁyJø9$# ÇÊÍÈ   bÎ)ur š‚#y‰yg»y_ #’n?tã br& š‚͍ô±è@ ’Î1 $tB }§øŠs9 y7s9 ¾ÏmÎ/ ÖNù=Ïæ Ÿxsù $yJßg÷èÏÜè? ( $yJßgö6Ïm$|¹ur ’Îû $u‹÷R‘‰9$# $]ùrã÷ètB ( ôìÎ7¨?$#ur Ÿ@‹Î6y™ ô`tB z>$tRr& ¥’n<Î) 4 ¢OèO ¥’n<Î) öNä3ãèÅ_ötB Nà6ã¥Îm;tRé'sù $yJÎ/ óOçFZä. tbqè=yJ÷ès? ÇÊÎÈ   ¢Óo_ç6»tƒ !$pk¨XÎ) bÎ) à7s? tA$s)÷WÏB 7p¬6ym ô`ÏiB 5AyŠöyz `ä3tFsù ’Îû >ot÷‚|¹ ÷rr& ’Îû ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÷rr& ’Îû ÇÚö‘F{$# ÏNù'tƒ $pkÍ5 ª!$# 4 ¨bÎ) ©!$# ì#‹ÏÜs9 ׎Î7yz ÇÊÏÈ   ¢Óo_ç6»tƒ ÉOÏ%r& no4qn=¢Á9$# öãBù&ur Å$rã÷èyJø9$$Î/ tm÷R$#ur Ç`tã ̍s3ZßJø9$# ÷ŽÉ9ô¹$#ur 4’n?tã !$tB y7t/$|¹r& ( ¨bÎ) y7Ï9ºsŒ ô`ÏB ÇP÷“tã Í‘qãBW{$# ÇÊÐÈ  
13. dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".
14. dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun[1180]. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.
15. dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
16. (Luqman berkata): "Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus[1181] lagi Maha mengetahui.
17. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).

[1180] Maksudnya: Selambat-lambat waktu menyapih ialah setelah anak berumur dua tahun.
[1181] Yang dimaksud dengan Allah Maha Halus ialah ilmu Allah itu meliputi segala sesuatu bagaimana kecilnya.

            Asbabun Nuzul Surat Al-Luqman
1.      Surat  Lukman ayat 13
Abdillah mengatakan ayat ini diturunkan berkenaan dengan nasihat Rasulullah kepada para sahabat tentang wasiat lukman kepada anaknya. Saat turun QS. Al An’am:82. Para sahabat keberatan. Mereka menghadap Rasulullah dan bertanya. “wahai Rasul, siapa diantara kami yang dapat membersikan keimanan dari kedzaliman?” “apa kalian telah mendengar wasiat lukman kepada anaknya. ‘Anakku, janganlah kamu menyekutukan Allah, karena itu adalah kedzaliman yang sangat besar’. “bersabda” (HR. Bukhari)
2.      Surat Lukman ayat 15
Sa’ad bin malik berkata, “ayat ini diturunkan berkenaan denganku. Aku sangat mencintai dan menghormati ibuku. Saat aku masuk islam ibuku tidak setuju dan berkata, ‘Anakku , kamu pilih salah satu, kamu tinggalkan islam atau aku akan mogok makan dan minum hingga aku mati’. Aku bertekad untuk tetap dalam islam. Namun ibuku melaksanakan ancamannya selama tiga hari tiga malam. Aku sedih dan berkata,’ibu, jika ibu memiliki seribu jiwa (nyawa) dan satu persatu meninggal, aku akan tetap dalam islam. Karena itu terserah ibu mau makan atau tidak. ‘akhirnya, ibuku pun luluh dan mau makan kembali.”(HR. Thabrani)
Penafsiran
Penjelasan surat lukman ayat 13-15
Ayat di atas merupakan nasihat Lukman kepada anaknya. Lukman melarang anaknya dari berbuat syirik, dia memberikan alasan atas larangan tersebut bahwa kemusyrikan itu adalah kazaliman. Pernyataan Lukman tentang hakikat ini di perkuat dengan dua tekanan. Pertama, mengawalinya dengan larangan berbuat syirik dan alasannya. Kedua, dengan huruf inna “sesungguhnya” dan huruf la “benar-benar”.
Nasihat seorang ayah kepada anaknya adalah bebas dari segala syubhat dan jauh dari segala prasangka. Sesungguhnya perkara tauhid dan larangan berbuat syirik merupakan perkara lama yang selalu di serukan oleh orang-orang yang di anugrahkan oleh Allah diantara manusia. Tidak ada kehendak lain di baliknya melainkan kebaikan semata-mata, dan sama sekali tidak menghendaki selain yang demikian. Inilah pengaruh jiwa yang di maksudkan dalam ayat di atas. “… Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lamah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun… “.
Ayat ini menggambarkan nuansa pengorbanan yang agung dan dahsyat. Seorang ibu dengan tabiatnya harus menaggung beban yang amat berat dan lebih kompleks. Namun, luar biasa, ia tetap menganggungnya dengan senang hati dan cinta yang lebih dalam, lembut dan halus. Walapun satu tarikan nafas dalam proses kehamilan dan kelahirannya, tetap tidak dapat di balasoleh seorang anak. Pasalnya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah lemah.
Dari sela-sela nuansa gambaran yang di liputi dengan kasih sayang itu, Al- Qur’an mengarahkan agar bersyukur kepada Allah sebagai pemberi nikmat yang pertama. Kemudian berterima kasih kepada kedua orang tua sebagai dua orang yang menjadi sarana nikmat itu pada urutan berikutnya. Al-Qur’an menggambarkan urutan kewajiban-kewajiban. Jadi, yang pertama bersyukur kepada Allah kemudian berterima kasih kepada orang tua.  “Jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya…”.
Hingga bila orang tua menyentuh titik syirik ini, jatuhlah kewajiban taat kepadanya, dan ikatan aqidah harus mengalahkan dan mendominasi segala ikatan lainnya. Walaupun kedua orang tua telah mengeluarkan segala upaya, usaha, tenaga, pandangan yang memuaskan untuk menggoda anaknya agar menyukutukan Allah dimana ia tidak mengetahui tentang ketuhanannya (dan setiap yang disembah selain Allah pasti tidak memiliki sifat ketuhanan, karena itu camkanlah), maka pada saat itu anak diperintahkan agar jangan taat. Dan perintah itu berasal dari Allah sebagai pemilik hak pertama dalam ketaatan. Namun, perbedaan aqidah dan perintah dari Allah agar tidak taat kepada orang tua dalam perkara yang melanggar aqidah, tidaklah menjatuhkan hak kedua orang tua dalam bermuamalah dengan baik dan menjalin hubungan yang memuliakan mereka.
Surat Luqman ayat 15 berisi bahwa Allah menyuruh supaya berbuat baik kepada ibu bapak dan menurut apa-apa perintahnya, tetapi jika keduanya menyuruh kamu, supaya kafir (mempersekutukan) Allah, maka janganlah turuti perintahnya itu. Dalam pada itu hendaklah kamu bergaul dengan dia menurutnya patutnya juga, dan tidak boleh kamu memusuhinya atau durhaka kepadanya. Pendeknya perkataan ibu, bapak itu wajib untuk dituruti, selama tidak melanggar peraturan agama Islam.

Implikasi surat lukman ayat 13-15
Islam sangat memperhatikan pendidikan anak, sehingga diceritakan kisah lukman dan anaknya. Yang perlu kita tiru dari kisah lukman dalam mendidik anak ialah:
1.    Menanamkan keimanan kepada anak sejak dini untuk selalu iman kepada Allah, dan melarang untuk menyekutukanNya.
2.    Selalu bersyukur kepada Allah atas segala nikmatNya.
3.    Selalu bersyukur kepada kedua orang tua atas kasih sayangnya.
4.    Mentaati kedua orang tua selagi tidak melanggar peraturan agama islam.
5.    Tidak melawan kedua orang tua ketika mereka memaksa untuk menyekutukan Allah, akan tetapi tetap memperlakukan mereka dengan baik.
Akan tetapi didalam mendidik perlu ada beberapa unsur untuk bisa menjadikan anak itu menjalankan apa yang diperintahkan orang tua.
Menurut Abbudin nata ada enam komponen di dalam mendidik anak, yaitu:
1.    Komponen pendidik yang didalam hal ini adalah orang tua khususnya luqman (ayah) sebagai kepala keluarga.
2.    Komponen anak didik (murid) dalam hal ini adalah anaknya luqman sendiri.
3.    Komponen lingkungan dimana kegiatan pendidik tersebut berlangsung yang dalam hal ini adalah lingkungan keluarga.
4.    Komponen materi (kurikulum) pendidikan yang dalam ayat-ayat tersebut mencakup materi pendidikan tentang keimanan atau akidah yang kokoh. Antara lain dengan menjauhi perbuatan syirik; aklhak mulia anytara lain memuliakan kedua orang tua, mendirikan shalat, memerintah peruatan baik dan menjauhi prbuatan munkar, berrsikap tabah dan tidak menyombongkan diri ddan bersikap rendah hati.
5.    Komponan hubungan, pendekatan dalam proses belajar mengajar yang dalam hal ini mengembangkan pola hubungan yang demokratis menghargai pendapat orang lain, manusiawi, berorientasi kepada kebenaran ilmiah, dan profesional.
6.    Komponen metode, yang dalam hal ini dengan ceramah (mauidzah) dan perintah.
Dengan mengikuti iuran tersebut diatas tampak dengan jelas bahwa ajaran islam (Al-Qur’an) amat memperhatikan pembinaan generasi muda. Pembinaan tersebut dilakukan melalui kegiatan pendidikan yang dimulai dari rumah tangga atau pendidikan keluarga. Yang selanjutnya dilanjutkan oleh sekolah denga biaya ditanggung keluarga.
Untuk menghasilkan generasi muda yang baik yaitu generasi muda yang sehat fisiknya berilmu pengetahuan, berketerampilan, berakidah yang kokoh, taat menjalankan ibadah dan berakhlak yang mulia dan seterusnya terdapat pula petunjuk yang dapat dilakukan kedua orang tua



D.      Tafsir Surat Adz-Dzariyat ayat 56
 $tBur àMø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#ur žwÎ) Èbr߉ç7÷èu‹Ï9 ÇÎÏÈ  
56. dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.


Lafadh/ kalimat
Arti/ terjemahan
خلقت
Telah menciptakan
الجن
Jin
الإنس
Manusia
ليعبدون
Untuk menyembah

            Asbabun Nuzul
            Kita membayangkan bahwa Allah SWT ketika menetapkan penciptaan Nabi Adam, Dia memberitahukan kepada malaikat-Nya dengan tujuan agar mereka bersujud kepadanya, bukan dengan tujuan mengambil pendapat mereka atau bermusyawarah dengan mereka. Maha Suci Allah SWT dari hal yang demikian itu. Allah SWT memberitahukan mereka bahwa Dia akan menjadikan seorang hamba di muka bumi, dan bahwa khalifah ini akan mempunyai keturunan dan cucu-cucu, di mana mereka akan membuat kerusakan di muka bumi dan menumpahkan darah di dalamnya. Lalu para malaikat yang suci mengalami kebingungan. Bukankah mereka selalu bertasbih kepada Allah dan mensucikan-Nya, namun mengapa khalifah yang terpilih itu bukan termasuk dari mereka? Apa rahasia hal tersebut, dan apa hikmah Allah dalam masalah ini? Kebingungan melaikat dan keinginan mereka untuk mendapatkan kemuliaan sebagai khalifah di muka bumi, dan keheranan mereka tentang penghormatan Adam dengannya, dan masih banyak segudang pertanyaan yang tersimpan dalam diri mereka. Namun Allah SWT segera menepis keraguan mereka dan kebingungan mereka, dan membawa mereka menjadi yakin dan berserah diri. Firman-Nya:
( tA$s% þ’ÎoTÎ) ãNn=ôãr& $tB Ÿw tbqßJn=÷ès? ÇÌÉÈ  
“Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kamu tidak ketahui.” (QS. al-Baqarah: 30)
            Ayat tersebut menunjukan keluasan ilmu Allah SWT dan keterbatasan ilmu para malaikat, yang karenanya mereka dapat berserah diri dan meyakini kebenaran kehendak Allah. Kita tidak memba­yangkan terjadinya dialog antara Allah SWT dan para malaikat sebagai bentuk pengultusan terhadap Allah dan penghormatan terhadap para malaikat-Nya. Dan kita meyakini bahwa dialog terjadi dalam diri malaikat sendiri berkenaan dengan keinginan mereka untuk mengemban khilafah di muka bumi, kemudian Allah SWT memberitahu mereka bahwa tabiat mereka bukan disiapkan untuk hal tersebut.
            Sesungguhnya tasbih pada Allah SWT dan menyucikan-Nya adalah hal yang sangat mulia di alam wujud, namun khilafah di muka bumi bukan hanya dilakukan dengan hal itu. Ia membutuhkan karakter yang lain, suatu karakter yang haus akan pengetahuan dan lumrah baginya kesalahan. Kebingungan atau keheranan ini, dia­log yang terjadi dalam jiwa para malaikat setelah diberitahu tentang penciptaan Nabi Adam, semua ini layak bagi para malaikat dan tidak mengurangi kedudukan mereka sedikit pun. Sebab, meskipun kedekatan mereka dengan Allah SWT dan penyembahan mereka terhadap-Nya serta penghormatan-Nya kepada mereka, semua itu tidak menghilangkan kedudukan mereka sebagai hamba Allah SWT di mana mereka tidak mengetahui ilmu Allah SWT dan hikmah-Nya yang tersembunyi, serta alam gaibnya yang samar. Mereka tidak mengetahui hikmah-Nya yang tinggi dan sebab-sebab perwujudannya pada sesuatu.
            Setelah beberapa saat para malaikat akan memahami bahwa Nabi Adam adalah ciptaan baru, di mana dia berbeda dengan mereka yang hanya bertasbih dan menyucikan Allah, dan dia pun berbeda dengan hewan-hewan bumi dan makhluk-makhluk yang ada di dalamnya yang hanya menumpahkan darah dan membuat kerusakkan. Sesungguhnya Nabi Adam akan menjadi ciptaan baru dan keberadaannya disertai dengan hikmah yang tinggi yang tidak ada seorang pun mengetahuinya kecuali Allah SWT.
Penafsiran
 Maksud ayat tersebut adalah Allah menciptakan manusia dengan tujuan untuk menyuruh mereka beribadah kepada-Nya, bukan karena Allah butuh kepada mereka. Ayat tersebut dengan gamblang telah menjelaskan bahwa Allah Swt dengan menghidupkan manusia di dunia ini agar mengabdi / beribadah kepada-Nya. Bukan sekedar untuk hidup kemudian menghabiskan jatah umur lalu mati.[3]
Shihab (2003:356),
Ibadah terdiri dari ibadah murni (mahdhah) dan ibadah tidak murni (ghairu mahdhah). Ibadah mahdhah adalah ibadah yang telah ditentukan oleh Allah, bentuk, kadar, atau waktunya, seperti shalat, zakat, puasa dan haji. Ibadah ghairu mahdhah adalah segala aktivitas lahir dan batin manusia yang dimaksudkannya untuk mendekatkan diri kepada Allah.[4]
Berdasarkan ayat tersebut, dengan mudah manusia bisa mendapat pencerahan bahwa eksistensi manusia di dunia adalah untuk melaksanakan ibadah / menyembah kepada Allah Swt dan tentu saja semua yang berlaku bagi manusia selama ini bukan sesuatu yang tidak ada artinya. Sekecil apapun perbuatan itu. Kehadiran manusia ke bumi melalui proses kelahiran, sedangkan kematian sebagai pertanda habisnya kesempatan hidup di dunia dan selanjutnya kembali menghadap Allah untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya semasa hidup di dunia.

Syaikul Islam, Ibnu Taimiyah (dalam Nur Hasanah, 2002), memandang bahwa makna ibadah lebih dalam dan luas. Makna ibadah sampai pada unsur yang rumit sekalipun. Unsur yang sangat penting di dalam mewujudkan ibadah ialah sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Allah SWT yaitu unsur cinta. Tanpa unsur cinta tersebut, mustahil tujuan pokok diciptakan manusia, para rasul diutus, diturunkan kitab-kitab, ialah hanya untuk berbadah kepada Allah SWT dapat tercapai. [5]
                  Ayat ini pula dengan sangat jelas mengabarkan kepada kita bahwa tujuan penciptaan jin dan manusia tidak lain hanyalah untuk “mengabdi” kepada Allah SWT. Dalam gerak langkah dan hidup manusia haruslah senantiasa diniatkan untuk mengabdi kepada Allah. Tujuan pendidikan yang utama dalam Islam menurut Al-Qur’an adalah agar terbentuk insan-insan yang sadar akan tugas utamanya di dunia ini sesuai dengan asal mula penciptaannya, yaitu sebagai abid. Sehingga dalam melaksanakan proses pendidikan, baik dari sisi pendidik atau anak didik, harus didasarisebagai pengabdian kepada Allah SWT semata.
Mengabdi dalam terminologi Islam sering diartikan dengan beribadah. Ibadah bukan sekedar ketaatan dan ketundukan, tetapi ia adalah satu bentuk ketundukan dan ketaatan yang mencapai puncaknya akibat adanya rasa keagungan dalam jiwa seseorang terhadap siapa yang kepadanya ia mengabdi. Ibadah juga merupakan dampak keyakinan bahwa pengabdian itu tertuju kepada yang memiliki kekuasaan yang tidak terjangkau dan tidak terbatas.[6] Ibadah dalam pandangan ilmu Fiqh ada dua yaitu ibadah mahdloh dan ibadah ghoiru mahdloh. Ibadah mahdloh adalah ibadah yang telah ditentukan oleh Allah bentuk, kadar atau waktunya seperti halnya sholat, zakat, puasa dan haji. Sedangkan ibadah ghoiru mahdloh adalah sebaliknya, kurang lebihnya yaitu segala bentuk aktivitas manusia yang diniatkan untuk memperoleh ridho dari Allah SWT.




















BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
             Ibadah adalah suatu perintah dari Allah yang harus kita laksanakan dengan jiwa dan hati yang tulus dan ikhlas. Ibadah kita, mengisyaratkan bahwa kita sebagi seorang hamba membutuhkan terhadap rahmat, hidayah, taufiq maupun pertolongan dari Allah SWT, akan tetapi perlu di ingat bahwa rasa kebutuhan kita terhadap Allah tidak akan mengurangi rasa tulus ikhlas kita dalam beramal.
            Tiap-tiap ibadah yang kita kerjakan hendaknya didorong oleh keyakinan kepada kebesaran dan kekuasaan Allah serta timbul atas rasa syukur dan hutang budi kita kepada-Nya, jika demikian maka ibadah akan menjauhkan diri kita dari perbuatan yang tidak baik dan yang dilarang oleh Allah SWT.
            Tetapi ibadah yang tidak didasari atas beberapa aspek diatas akan terkesan hanya karena sebatas memelihara tradisi yang sudah turun temurun, kendatipun memiliki rupa dan bentuk ibadah. Tak ada ubahnya dengan patung dan gambar yaitu hanya sebagai simbol. Selanjutnya ibadah yang semacam itu, tidak ada kesan dan buahnya kepada tabiat dan akhlak orang yang beribadah tersebut.

B.     Pelajaran dari Tiap Surat tentang Ibadah

·         Pentingnya menjaga Tauhid dan kejinya dosa Syirik
·         Menjelaskan arti hikmah, yaitu bersyukur kepada Allah Swt dengan cara taat dan selalu ingat  kepadaNya. Dan orang yang bersyukur itu pasti orang memiliki akal sehat
·         Pentingnya memberi nasehat yang baik, sekaligus memberi solusi (irsyad) kepada siapa saja
·         Buruknya dosa musyrik dan jeleknya orang yang memusyrikan Allah Swt
·         Keharusan taat kepada orang tua dan mempelakukan mereka dengan lembut dan sayang
·         Pengukuhan pedoman, “ Tidak boleh patuh kepada seseorang jika menyuruh berbuat dosa kepada Allah Swt.” Dan ini berlaku kepada orang tua untuk tidak taat atas kemauan mereka ketika  diperintah melakukan keburukan.
·         Wajib mengikuti jalan yang benar sesuai Al-Qur’an dan Sunnah dan haramnya mengikuti jalan yang tidak berdasar kepada kedua pusaka itu






























Daftar Pustaka

Departemen Agama RI, Al-Qur'an dan Tafsirnya, Jakarta, 2000
Departemen agama RI, Al-Qur'an dan Terjemahan Al-Jumanatul 'Ali, Bandung:     CV penerbit       ART, 2005
Al-Qurthubi, Syaikh Imam. 2009. Tafsir Al Qurthubi. Jakarta: Pustaka Azzam.
Shihab, M. Quraish, Logika Agama Kedudukan Wahyu & Batas-Batas akal           Dalam Islam, Jakarta : Lentera Hati, 2005
file:///C:/Users/asus/ Nurul Blogspot. Documents/makalah-tafsir.html (tanggal 29   Oktober  2014, Pukul 9:45)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar