Mau buat buku tamu ini ?
Klik di sini
Sumber : http://ramadhanlmzero.blogspot.com/2012/12/cara-membuat-buku-tamu-keren-di-blog.html#ixzz3IAOAM1NV

Selasa, 11 November 2014

STRATEGIC COLLABORATION Dan TOTAL ACTION (Pribadi Muslim)

A.     Pengertian Profesi bagi guru
Istilah profesi dalam kehidupan sehari-hari digunakan untuk menunjukkan tentang pekerjaan seseorang. Seseorang yang bekerja sebagai dokter, dikatakan profesinya sebagai dokter dan orang yang pekerjaannya mengajar di sekolah dikatakan profesinya sebagai Guru. Bahkan ada orang yang mengatakan bahwa profesinya sebagai tukang batu,tukang parkir,pengamen,penyanyi,pedagang dan sebagainya.Jadi istilah profesi dalam konteks ini, sama artinya dengan pekerjaan atau tugas yang dilakukan seseorang dalam kehidupannya sehari-hari.
Guru adalah sebuah profesi, sebagaimana profesi lainnya merujuk pada pekerjaan atau jabatan yang menuntut keahlian, tanggung jawab, dan kesetiaan. Suatu profesi tidak bisa di lakukan oleh sembarang orang yang tidak dilatih atau dipersiapkan untuk itu. Suatu profesi umumnya berkembang dari pekerjaan (vocational), yang kemudian berkembang makin matang serta ditunjang oleh tiga hal: keahlian, komitmen, dan keterampilan, yang membentuk sebuah segitiga sama sisi yang di tengahnya terletak profesionalisme.
Senada dengan itu, secara implisit, dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan, bahwa guru adalah : tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi.

B.  Strategic Collaborattion
Setiap insan yang terlahir, bernafas dan hidup di dunia ini pastilah dianugrahi ruh (soul), jiwa (mind), dan raga (body) oleh Sang Pencipta (Al-Khooliq). Hal ini lah beberapa diantaranya yang menjadi focus pembahasan kedua setelah kita mengenal bagaimana makna profesi bagi seorang guru.  
Akan tetapi sebelum membahas mengenai Strategic Collaboration terlebih dahulu penulis akan memaparkan pula tentang makna ESQ 165.
ESQ adalah singkatan dari Emotional Spiritual Quotien. Metode ini ditemukan oleh Ary Ginanjar Agustian yang menyatukan IQ (Inteligence Quotient) terletak pada fungsi otak neocortex,[2] EQ (Emotional Quotient) terletak pada fungsi otak lymbic system,[3] dan SQ (Spiritual Quotient) pada fungsi otak godspot, atau terletak pada temporallobe.[4]

Model ini menggambarkan satu titik tuhan yang merupakan god spot (titik tuhan) yang terbelenggu atau dikelilingi oleh lingkaran hitam bertuliskan Zero Mind Proses (ZMP). Terdapat bagian yang berwarna yaitu pink bertuliskan Star Priciple, Biru bertuliskan Angel principle, hijau bertuliskan Leadership principle, kuning bertuliskan Learnig principle, orange bertuliskan vision principle, dan merah bertuliskan Well Orgenized Principle. Terakhir bagian luar yang berbentuk bola biru terdapat lima litasan yang berputar melawan jarum jam yang bertuliskan; (1) Mission Statement, (2) Characther Building, (3) Self Control (4) Strategic Collaboration (5) Total Action.
Adapun hubungan ESQ 165 dengan model tersebut, antara lain:
Angka 1: Dijelaskan dalam model sebagai titik tuhan (God Spot). Pada pusat gambar terdapat sebuah lingkaran terdalam yang bertuliskan titik God spot atau titik tuhan. Penelitian yang telah dilakukan oleh neuro-psikolog Michael Persinger awal tahun 1990-an, dan oleh Neurolog Ramachandran 1997 bersama timnnya di Universitas California mengenai adanya “Titik Tuhan” (God Spot) dalam otak manusia. Pusat spiritual yang terpasang ini terletak diantara hubungan-hubungan syaraf dalam cuping-cuping temporal otak.
Lingkaran hitam yang mengelilingi titik putih atau god spot merupakan belenggu yang menghalangi seseorang mencapai kebahagiaan sejati. Lingkaran tersebut berupa prasangka-prasangka negatif, prinsip-prinsip hidup yang salah, pengalaman-pengalaman yang membelenggu pikiran, egoisme kepentingan, pembanding-pembanding yang subyektif dan belenggu-belengu fanatisme yang menyesatkan.
Pembersihan God spot disebut Zero Mind Process, yakni pembentukan hati dan pikiran yang jernih dan suci. Kemerdekaan berpikir akan melahirkan pribadi-pribadi kreatif, berwawasan luas, terbuka, fleksibel, mampu berpikir jernih dan God spot yang kembali bercahaya.
Manusia menurut konsep ESQ adalah makhluk spiritual murni, yaitu makhluk yang ditiupkan ruh-ruh spiritual ke dalam tubuh manusia. Sifat-sifat tersebut kemudian dipadukan ke dalam materi konkret berupa tubuh atau jasad manusia yang terbuat dari tanah. Pendapat ini dibuktikan dengan adanya penemuan ilmiah SQ oleh V.S Ramachandran pada tahun 1997, lalu God Spot oleh Michael Persinger, Wolf Singer, dan Rudolfo Llinnas tentang osilasi saraf spiritual. Para ahli tersebut diatas berhasil membuktikan bahwa manusia memiliki makna tertinggi kehidupan manusia (The Ultimate Meaning). 
Ary Ginanjar menegaskan bahwa penemuan God Spot pada manusia lebih meyakinkan pendapat ini, karena akan senantiasa mencari Tuhan-nya, yaitu melalui sifat-sifat-Nya, yang selalu diidam-idamkan manusia dan sekaligus merupakan bukti keperkasaan Allah, serta penghambaan manusia. Dengan bermodalkan Spritual Quotient (SQ), manusia mengabdi kepada Allah untuk mengelola bumi sebagai khalifah dan misi utamanya semata-mata mencari keridhaan Allah, target utamanya adalah menegakan keadilan, perdamaian dan kemakmuran. Langkah nyatanya berupa spiritualisasi di segala bidang. Inilah yang kemudian disebut sebagai aktualisasi diri melalui Ihsan.
Sifat-sifat ini menurutnya termasuk kategori ihsan, atau menuju sifat-sifat Allah (taqarub), yang terletak pada spiritual center (God Spot). Nilai-nilai tersebut diikhtisarkan dari 99 Asmaul Husna yang merupakan proto kesadaran yang terdeteksi pada osilasi Pare-Llinas, yang dianggap sebagai arketipe oleh Zohar, yang diduga sebagai super-egooleh Freud, self-actualization oleh Maslow, unconscious-mind oleh Carl Jung, dan dinamakan ”makna hidup” oleh Frankl. Ia lalu menamakan nilai-nilai ini sebagai Asmaul Husna Value System (AHVS) yang menghasilkan ultimate value dan ultimate drive.
Angka 6 merupakan perwakilan dari enam warna yang pertama, yang mewakili dimensi emosional atau emotional quotient (EQ). Pada tahun 1990, Daniel Goelman menulis buku Emotional Intelligence. Goelman mengatakan bahwa sangatlah sempit apabila keberhasilan seseorang hanya ditentukan oleh sebuah entitas (besaran) yang disebut dengan kecerdasan intelektual. Ada entitas lain yang lebih dominant dalam memberi kontribusi kesuksesan seseorang, yaitu apa yang disebut kecerdasan emosional (EQ). EQ bekerja pada fungsi otak limbic system, kecerdasan ini menunjukkan kemampuan seseorang dalam mengungkapkan dan merasakan perasaan orang lain. 
EQ adalah ketrampilan untuk mengenali dan mengelola perasaan dan emosi diri sendiri maupun orang lain. Dimensi ini digambarkan dengan warna pink yang bertuliskan Star Priciple. Kenapa berwana pink dikarenakan pada Star Priciple kita dapat mencintai Allah lebih dari mencintai apapun.
Kedua, digambarkan dengan warna biru Angel principle menjelaskan tetap berbuat baik dimanapun kita berada meski tanpa ada orang yang melihat. Warna biru melambangkan kedamaian.
Ketiga, Leadership principle yang dilambangkan dengan warna hijau. Diharapkan kita dapat mencontoh kepemimpinan Nabi Muhammad yang bersahaja, memaafkan dan sebagai suri tauladan sehingga diikuti banyak orang. Cara atau langkah melakukan Leader principle adalah (1) dicintai dengan membangun hubungan, (2) dipercaya dengan integritas (3) diikuti dengan keluh kesah (4) Kader dengan membimbing orang lain (5) Pemimpin abadi dengan Leave legacy atau meninggalkan kebaikan atau manfaat.
Keempat, kuning bertuliskan Learnig principle kita tetap belajar seperti padi yang masak setiap berisi semakin merunduk, memegang teguh Al-quran dan Al-hadis, serta memiliki prinsip seperti orang di budaya Jepang KAIZEN (ambil yang baik dan tinggalkan yang bruk). Kelima, warna orange bertuliskan vision principle, yang berarti kita harus memiliki visi hidup kita. Maka kita harus memiliki long term vision (visi jangka panjang) yaitu mati masuk surga dan bertemu dengan Allah; midterm vision (visi jangka menengah), dan shorter vision (visi jangka pendek) misalnya menyusun jadwal harian/kegiatan, shalat, mengaji, bangun, mandi dsb. Dan yang terakhir warna merah bertuliskan Well Orgenized Principle.Yaitu pengorganisasi yang baik dimana seorang leader yang baik itu timbul dari nilai-nilai yang baik, kemudian system yang baik dan lahirlah seorang pemimpin sejati.
Terakhir angka 5 yang menggambarkan dimensi Inteligensi Quotient (IQ). ditemukan pada tahun 1905 di paruis prancis oleh Binet. Kemudian dibawa ke AS di Universitas Stanford maka lahir disebut Stanfordbinet dipergunakan pertama kali pada perang dunia I. Perangkat ini dibawa ke Amerika untuk mengetes para calon tentara Amerika, dan selanjutnya diperkenalkan keberbagai negara diseluruh dunia, termasuk Indonesia.
Dimensi ini IQ berisi lima perihal yang berhubungan dengan raga (body), yaitu personal strange dan social strang. Personal strange terdiri dari 3 macam kemampuan, yaitu (1) Mission Statement, memiliki misi yaitu memberikan rahmat melalui syyahadat, dan melakukan segala kegiatan karena Allah SWT semata (lilahitaAlla).  (2) Characther Building, dengan menghidari diri dari perbuatan maksiat dan siplin diri. Komitmen ini dapat dijaga dengan bersuci melakukan wudhu dan syalat, (3) Self Control, yaitu mampu menguasai hawa nafsu. Kita sebaiknya melakukan control terhadap hawa nafu berupa emosi dan lain sebagainya dengan isthigfar dan berpuasa. Sedangkan Social strange yaitu kemampuan untuk berhubungan denga manusia lain. Untuk menumbuhkan rasa soial hendakya kita melakukan (4) Strategic Collaboration, yaitu saling memberi dan menerima. Strategi ini dapat dilakukan dengan mengerjakan zakat, sedekah dan infak, (5) Total Action,  yaitu keseluruhan totalitas dari segala yang kita miliki hanya untuk Allah. Lakukan yang terbaik do the best dan tawakal. Berhubungan dengan jika telah mampu maka lakukanlah haji.

Dengan Zakat (Stategik Collaboration), maka dalam keseharian kita, akan terbentuk tabiat atau sifat atau kebiasaan sebagai berikut :
     Kita akan mampu mengeluarkan semua potensi spiritual (core values), yaitu dengan mempergunakan dan member system pendelegasian fitrah (core values) semua sumber daya yang dipunyai untuk melakukan sinergi dalam rangka mencapai sebuah tujuan secara efektif dalam tindakan seperti member perhatian dan penghargaan kepada orang, memahami perasaan orang lain, menepati janji yang sudah kita berikan, bersikap toleran, mau mendengarkan orang lain, bersikap empati, menunjukkan integritas, menunujkkan sikap rahman dan rahim kepada orang lain dan suka menolong orang lain;
     Kita akan menciptakan investasi kepercayaan diantara kedua belah pihak, mencairkan dan menghapus prasangka negative akibat perbedaan sudut pandang, dan mengubahnya menjadi hubungan saling percaya dua arah yang mendalam;
     Kita akan dapat menciptakan investasi komitmen atau janji dua arah yang mendalam;
     Kita akan mampu membangun dan menciptakan landasan kooperatif positif dan kondusif bagi terciptanya sebuah sinergi;
     Kita akan mampu menciptakan investasi kredibilitas yang dibutuhkan sebagai pondasi untuk melakukan aliansi dengan orang lain;
     Kita akan mampu menciptakan investasi keterbukaan, empati dan kompromi dalam berhubungan dengan orang lain.




C.  Total Action (Pribadi Muslim)
Kepribadian Muslim dapat dilihat dari kepribadian orang per orang (individu) dan kepribadian dalam kelompok masyarakat (ummah). Kepribadian individu meliputi ciri khas seseorang dalam sikap dan tingkahlaku, serta kemampuan intelaktual yang dimilikinya. Karena adanya unsur kepribadian yang dimiliki masing-masing, maka sebagai individu seorang Muslim akan menampilkan ciri khasnya masing-masing. Dengan demikian akan ada perbedaan kepribadian antara seseorang muslim dengan muslim lainnya. Secara fitrah perbedaan ini memang diakui adanya.
Ÿwur (#qç/tø)s? tA$tB ÉOŠÏKuŠø9$# žwÎ) ÓÉL©9$$Î/ }‘Ïd ß`|¡ômr& 4Ó®Lym x÷è=ö7tƒ ¼çn£‰ä©r& ( (#qèù÷rr&ur Ÿ@ø‹x6ø9$# tb#u”ÏJø9$#ur ÅÝó¡É)ø9$$Î/ ( Ÿw ß#Ïk=s3çR $²¡øÿtR žwÎ) $ygyèó™ãr ( #sŒÎ)ur óOçFù=è% (#qä9ωôã$$sù öqs9ur tb%Ÿ2 #sŒ 4’n1öè% ( ωôgyèÎ/ur «!$# (#qèù÷rr& 4 öNà6Ï9ºsŒ Nä38¢¹ur ¾ÏmÎ/ ÷/ä3ª=yès9 šcr㍩.x‹s? ÇÊÎËÈ  
152. dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada sesorang melainkan sekedar kesanggupannya. dan apabila kamu berkata, Maka hendaklah kamu Berlaku adil, Kendatipun ia adalah kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah. yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat.

) الأنعام:152 (
Potongan ayat diatas mengandung intisari bahwa Islam memandang setiap manusia memiliki potensi yang berbeda, hingga kepada setiap orang dituntut untuk menunaikan perintah agamanya sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing.
Kalaulah individu merupakan unsur terkecil dari suatu masyarakat, maka tentunya dalam pembentukan kepribadian Muslim sebagai umat akan sulit dipenuhi. Beranjak dari pernyataan tersebut, maka dalam upaya membentuk kepribadian Muslim baik secara individu, maupun sebagai suatu ummah, adanya perbedaan tersebut bagaimana pun tak mungkin dapat diletakkan. Dalam kenyataannya memang dijumpai adanya unsur keberagaman (heterogenitas) dan homogenitas(kesamaan).
Maka walaupun sebagai individu masing-masing kepribadian itu berbeda, tapi dalam pembentukan kepribadian muslim sebagai ummah, perbedaan itu perlu dipadukan. Sumber yang menjadi dasar dan tujuannya adalah ajaran wahyu.
$tBur àMø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#ur žwÎ) Èbr߉ç7÷èu‹Ï9 ÇÎÏÈ  
)الذريّة(56:
Dasar pembentukan adalah Al-Qur’an dan hadist, sedangkan tujuan yang akan dicapai adalah menjadi pengabdi Allah yang setia, sebagai Tuhan yang wajib disembah. Sedangkan pengabdian yang dimaksud didasarkan atas tuntutan untuk menyembah kepada Tuhan yang satu : itulah dia Allah Tuhan kamu, tidak ada yang berhak disembah selain dia. Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah dia
Pernyataan wahyu ini merupakan kerangka acuan dalam pembentukan kepribadian Muslim sebagai ummah. Acuan ini berisi pernyataan, bahwa setiap Muslim wajib menunjukkan ketundukan yang optimal kepada zat yang menjadi sesembahannya. Dengan demikian secara keseluruhan kaum muslimin mengacu kepada pembentukan sikap kepatuhan yang sama imbasnya diharapkan akan terbentuk sifat dan sikap yang secara umum adalah sama. Inilah yang dimaksud dengan kepribadian muslim sebagai ummah.
Kepribadian menurut Zakiah Daradjat (1980) disebut sebagai sesuatu yang abstrak, sukar dilihat secara nyata, hanya dapat diketahui lewat penampilan, tindakan dan ucapan ketika menghadapi persoalan, atau melalui atsarnya saja.[5] Kepribadian mencakup semua unsure, baik fisik maupun psikis. Naik atau tidaknya nilai kepribadian seseorang tentu saja didasari oleh ilmu pengetahuan dan moral yang dimilikinya. Artinya, kepribadian akan turut menetapkan apakah para guru dapat disebut sebagai pendidik yang baik atau sebaliknya, justru menjadi perusak anak didiknya.
Alexander (1971) menyatakan : “No one can be a genuine teacher unless he is himself actively sharing in the human attempt to understand men an their word” secara tidak langsung, Alexander menyarankan agar guru dapat memahami kesulitan yang dihadapi oleh muridnya dalam belajar.[6]
Guru sebagai teladan bagi murid-muridnya harus memiliki sikap dan kepribadian yang utuh yang dapat dijadikan tokoh panutan idola dalam seluruh segi kehidupannya. Kompetensi kepribadian yang menggambarkan etika profesi menurut Slamet PH (2006) terdiri dari sub-kompetensi salah satunya adalah; menunjukkan dan mempromosikan nilai-nilai, norma, sikap, dan perilaku positif yang mereka harapkan dari peserta didiknya.
Guru yang professional adalah guru yang siap memberikan bimbingan nurani dan akhlak yang tinggi kepada murid-muridnya. Karena bimbingan yang diberikan bersumber dari ketulusan hati, maka guru benar-benar siap sebagai spiritual father bagi muridnya.
Dengan demikian dapat ditegaskan bahwa kemuliaan hati seorang guru diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.  Guru secara nyata dapat berbagi dengan anak didiknya. Oleh karena itu Guru pantas menyandang gelar sebagai moeslim total action artinya bahwa guru benar-benar sosok yang memiliki kepribadian muslim yang sempurna. Hal ini dikarenakan guru memiliki daya kalbu yang tinggi yang menampilkan kepribadian paripurna. Daya kalbu terdiri dari daya spiritual, emosional, moral, rasa kasih sayang, kesopanan, toleransi, kejujuran, dan kebersihan, disiplin diri, harga diri, tanggung jawab, keberanian moral, kerajinan, komitmen, estetika, dan etika.[7]
Lalu bagaimana kiat agar menjadi pribadi yang unggul? Berikut ini beberapa di antaranya :
Ø Percaya diri, yakinkan bahwa kita ditakdirkan menjadi ummat terbaik, lakukan amal terbaik
Ø Bangun sistem yang kondusif pilih lingkungan dan teman-teman yang berkualitas
Ø Mampu bersinergi (berjamaah)
Ø Manajemen qalbu mampu mengendalikan hati
Bangkitlah dan jangan ditunda-tunda lagi untuk menjadi seorang pribadi muslim yang berprestasi, yang unggul dalam potensi yang telah dianugerahkan Allah kepada setiap diri hamba-hamba-nya.

Dengan Pemahaman dan pengamalan Konsep Rukun Islam yang Kelima yaitu Haji (Total Action), maka dalam keseharian kita, akan terbentuk tabiat atau sifat atau kebiasaan sebagai berikut :
-        Kita akan mampu memulai langkah mengosongkan pikiran dan suara hati kita (Zero Mind) dengan melakukan Ihram;
-        Kita Kita akan mampu melakukan evaluasi diri dan visualisasi gambaran masa depan atau wawasan melalui pelaksanaan wukuf di Arafah;
-        Kita akan mampu menghadapi tantangan yang selalu mengahadang melalui pelaksanaan lontar jumroh;
-        Kita akan mampu untuk mengasah komitmen atau janji dan integritas melalui Thawaf;
-        Kita akan mampu untuk mengasah AQ (Adversity Quotient), yaitu kecerdasan kita dalam mengatasi kesulitan dan sanggup bertahan hidup dengan melalui pelaksanaan sai;

-        Kita akan mampu menyinergikan seluruh potensi umat melalui pelaksanaan hajiitu sendiri oleh jemaah haji, termasuk diri kita.






















BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan
Dari pembahasan diatas, penulis dapat menyimpulakn isi makalah sebagai berikut:
·      Dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan, bahwa guru adalah : tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi.
·      Strategic Collaboration, yaitu saling memberi dan menerima. Strategi ini dapat dilakukan dengan mengerjakan zakat, sedekah dan infak, 
·      Total Action,  yaitu keseluruhan totalitas dari segala yang kita miliki hanya untuk Allah. Lakukan yang terbaik do the best dan tawakal. Berhubungan dengan jika telah mampu maka lakukanlah haji.
            Untuk menjadi seorang yang sukses, tidak hanya dibutuhkan intelegensi yang tinggi tapi juga kecerdasan emosi yang tidak hanya berorientasi pada hubungan antar manusia semata tapi juga didasarkan pada hubungan manusia dengan Tuhannya. Dengan demikian, manusia yang menyadari akan hakekat hidupnya sebagai makhluk Allah, cara berpikirnya tidaklah hanya  semata mengejar kebahagiaan dunia, kepuasan material, kepuasan yang hanya sesaat. Dengan bimbingan hati nurani atau ‘God Spot’ manusia akan berhasil menjadi seorang khalifah sesuai dengan fitrahnya. Karena sesungguhnya dengan meningkatnya kecerdasan spiritual maka kecerdasan emosi dan kecerdasan intelektualnyapun akan makin meningkat. Karena Al-Quran telah mengajarkan keseimbangan di alam semesta.

DAFTAR PUSTAKA

Sagala, Syaiful.2009. Kemampuan Profesional Guru dan Tenaga Kependidikan. Bandung : Alfabeta.
Usman Uzer,Moh.2009. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya.



[1] Syaiful Sagala, Kemampuan Profesional Guru dan Tenaga Kependidikan.(Bandung: Alfabeta) hlm.6.
[2] Neokorteks adalah bagian dari korteks serebral (bersama dengan archicortex dan paleocortex - yang merupakan bagian kortikal dari sistem limbik).
[3] Sistem limbik: Sistem limbik, sering disebut sebagai "otak emosional", ditemukan terkubur di dalam otak besar. Seperti otak kecil, evolusi struktur agak lama.
[4] bagian dari korteks serebral baik belahan otak berbaring di dalam kuil/batok kepala. Secara otomatis memori dalam otak akan tersimpan didalamnya
[5] Syaiful Sagala, Kemampuan Profesional Guru dan Tenaga Kependidikan.(Bandung: Alfabeta) hlm.33.
[7] Ibid. Hlm. 37


















Dengan Pemahaman dan pengamalan Konsep Rukun Islam yang Ketiga yaitu Puasa (Self Controlling), maka dalam keseharian kita, akan terbentuk tabiat atau sifat atau kebiasaan sebagai berikut :
-        Kita akan meraih kemerdekaan sejati, yaitu merdeka dan bebas dari berbagai belenggu yang mengungkung titik Tuhan (God Spot/Spiritual Capital) kita;
-        Kita akan dapat memelihara titik Tuhan (God Spot/Spiritual Capital) pada diri kita, yaitu melindungi core values atau fitrah ruh ilahiah dan menjaga isi God Spot/Spiritual Capital agar selalu tetap memiliki kejernihan hati dan menghentikan bentuk penghambaan kepada selain Allah, sebagaimana disebutkan dalam Hadis Qudsi “Seorang hamba akan mendekatkan diri kepadaku dengan puasa, hingga aku mencintainya, dan bila aku mencintainya, menjadilah pendengaranku yang digunakan untuk mendengar, penglihatanku yang digunakan untuk melihat, tanganku yang digunakan untuk bertindak, serta kakiku yang digunakan untuk berjalan”;
-         Kita akan dapat mengendalikan suasana hati kita yang sangat berkuasa atas wawasan, pikiran dan tindakan;
-        Kita akan dapat meningkatkan kecakapan emosi (EQ) secara fisiologis, hal ini dibuktikan oleh penelitian yang dilakukan oleh Daniel Goleman tarhadap anak-anak tk di Stanford USA;
-        Kita akan dapat mengendaliakn prinsip Rukun Iman (EQ), yaitu pengendalian pikiran dan hati agar tetap berada pada garis orbit yang telah digariskan dalam prinsip berpikir berdasarkan Rukun Iman;
Dengan Pemahaman dan pengamalan Konsep Rukun Islam yang Keempat yaitu Zakat (Stategik Collaboration), maka dalam keseharian kita, akan terbentuk tabiat atau sifat atau kebiasaan sebagai berikut :
-     Kita akan mampu mengeluarkan semua potensi spiritual (core values), yaitu dengan mempergunakan dan member system pendelegasian fitrah (core values) semua sumber daya yang dipunyai untuk melakukan sinergi dalam rangka mencapai sebuah tujuan secara efektif dalam tindakan seperti member perhatian dan penghargaan kepada orang, memahami perasaan orang lain, menepati janji yang sudah kita berikan, bersikap toleran, mau mendengarkan orang lain, bersikap empati, menunjukkan integritas, menunujkkan sikap rahman dan rahim kepada orang lain dan suka menolong orang lain;
-     Kita akan menciptakan investasi kepercayaan diantara kedua belah pihak, mencairkan dan menghapus prasangka negative akibat perbedaan sudut pandang, dan mengubahnya menjadi hubungan saling percaya dua arah yang mendalam;
-     Kita akan dapat menciptakan investasi komitmen atau janji dua arah yang mendalam;
-     Kita akan mampu membangun dan menciptakan landasan kooperatif positif dan kondusif bagi terciptanya sebuah sinergi;
-     Kita akan mampu menciptakan investasi kredibilitas yang dibutuhkan sebagai pondasi untuk melakukan aliansi dengan orang lain;
-     Kita akan mampu menciptakan investasi keterbukaan, empati dan kompromi dalam berhubungan dengan orang lain.
Dengan Pemahaman dan pengamalan Konsep Rukun Islam yang Kelima yaitu Haji (Total Action), maka dalam keseharian kita, akan terbentuk tabiat atau sifat atau kebiasaan sebagai berikut :
-        Kita akan mampu memulai langkah mengosongkan pikiran dan suara hati kita (Zero Mind) dengan melakukan Ihram;
-        Kita Kita akan mampu melakukan evaluasi diri dan visualisasi gambaran masa depan atau wawasan melalui pelaksanaan wukuf di Arafah;
-        Kita akan mampu menghadapi tantangan yang selalu mengahadang melalui pelaksanaan lontar jumroh;
-        Kita akan mampu untuk mengasah komitmen atau janji dan integritas melalui Thawaf;
-        Kita akan mampu untuk mengasah AQ (Adversity Quotient), yaitu kecerdasan kita dalam mengatasi kesulitan dan sanggup bertahan hidup dengan melalui pelaksanaan sai;
-        Kita akan mampu menyinergikan seluruh potensi umat melalui pelaksanaan hajiitu sendiri oleh jemaah haji, termasuk diri kita.
Dalam pelaksanaannya, untuk membangun pribadi tangguh ada tiga langkah sukses yaitu :
1. Penetapan Misi (Mission Statement) – Mengucapkan Dua Kalimat Syahadat
a. Membangun misi kehidupan
b. Membulatkan tegad
c. Membangun visi
d. Menciptakan wawasan
e. Transformasi visi
f. Komitmen total
2. Pembangunan karakter (Character building) – Ibadah Sholat
a. Relaksasi
b. Membangun kekuatan afirmasi
c. Meningkatkan ESQ
d. Membangun pengalaman positif
f. Pembangkit dan penyeimbang energi bathiniyyah
g. Pengasahan prinsip
3. Pengendalian diri (Self Controlling) – Ibadah Shaum
a. Meraih kemerdekaan sejati
b. Memelihara fitrah
c. Mengendalikan suasana hati
d. Meningkatkan kecakapan emosi secara fisiologis
e. Pengendalian prinsip
Membangun Ketangguhan Sosial (Social Strength)
Sementara 3 rukun Islam yang pertama yaitu membaca 2 kalimat syahadat, ibadah sholat dan shaum dapat membangun ketangguhan pribadi, maka ibadah zakat dan ibadah haji dapat membangun ketangguhan sosial. Berikut ini adalah 2 langkah sukses membangun ketangguhan sosial.
1. Sinergi (Strategic Collaboration) – Ibadah zakat
a. Investasi kepercayaan
b. Investasi komitmen
c. Membangun landasan koperatif
d. Investasi kredibilitas
e. Investasi keterbukaan, empati, dan kompromi
2. Aplikasi Total (Total action)
a. Langkah zero mind – Ihrom
b. Pengasahan komitmen dan integritas – Thawaf
c. Pengasahan Adversity Quotient (AQ) – Sa’i
d. Evaluasi dan visualisasi - - Wuquf
e. Hadapi tantangan – Lontar jumroh
f. Sinergikan – Jamaah haji


Tidak ada komentar:

Posting Komentar