A. Pengertian Profesi bagi guru
Istilah profesi dalam kehidupan sehari-hari digunakan untuk
menunjukkan tentang pekerjaan seseorang. Seseorang yang bekerja sebagai dokter,
dikatakan profesinya sebagai dokter dan orang yang pekerjaannya mengajar di
sekolah dikatakan profesinya sebagai Guru. Bahkan ada orang yang mengatakan
bahwa profesinya sebagai tukang batu,tukang parkir,pengamen,penyanyi,pedagang
dan sebagainya.Jadi istilah profesi dalam konteks ini, sama artinya dengan
pekerjaan atau tugas yang dilakukan seseorang dalam kehidupannya sehari-hari.
Guru adalah sebuah profesi, sebagaimana profesi lainnya
merujuk pada pekerjaan atau jabatan yang menuntut keahlian, tanggung jawab, dan
kesetiaan. Suatu profesi tidak bisa di lakukan oleh sembarang orang yang tidak
dilatih atau dipersiapkan untuk itu. Suatu profesi umumnya berkembang dari
pekerjaan (vocational), yang kemudian berkembang makin matang serta ditunjang
oleh tiga hal: keahlian, komitmen, dan keterampilan, yang membentuk sebuah
segitiga sama sisi yang di tengahnya terletak profesionalisme.
Senada dengan itu, secara implisit, dalam Undang-Undang
Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan, bahwa guru
adalah : tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses
pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan,
serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi
pendidik pada perguruan tinggi.
B.
Strategic
Collaborattion
Setiap
insan yang terlahir, bernafas dan hidup di dunia ini pastilah dianugrahi
ruh (soul), jiwa (mind), dan raga (body) oleh Sang Pencipta
(Al-Khooliq). Hal ini lah beberapa diantaranya yang menjadi focus pembahasan
kedua setelah kita mengenal bagaimana makna profesi bagi seorang guru.
Akan
tetapi sebelum membahas mengenai Strategic Collaboration terlebih dahulu
penulis akan memaparkan pula tentang makna ESQ 165.
ESQ
adalah singkatan dari Emotional Spiritual Quotien. Metode ini ditemukan
oleh Ary Ginanjar Agustian yang menyatukan IQ (Inteligence Quotient) terletak
pada fungsi otak neocortex,[2] EQ (Emotional Quotient) terletak pada fungsi otak lymbic
system,[3] dan SQ (Spiritual Quotient) pada fungsi otak godspot,
atau terletak pada temporallobe.[4]
Model
ini menggambarkan satu titik tuhan yang merupakan god spot (titik tuhan)
yang terbelenggu atau dikelilingi oleh lingkaran hitam bertuliskan Zero Mind
Proses (ZMP). Terdapat bagian yang berwarna yaitu pink bertuliskan Star
Priciple, Biru bertuliskan Angel principle, hijau
bertuliskan Leadership principle, kuning bertuliskan Learnig
principle, orange bertuliskan vision principle, dan merah
bertuliskan Well Orgenized Principle. Terakhir bagian luar yang berbentuk
bola biru terdapat lima litasan yang berputar melawan jarum jam yang
bertuliskan; (1) Mission Statement, (2) Characther Building, (3) Self
Control (4) Strategic Collaboration (5) Total Action.
Adapun
hubungan ESQ 165 dengan model tersebut, antara lain:
Angka
1: Dijelaskan dalam model sebagai titik tuhan (God Spot). Pada pusat gambar
terdapat sebuah lingkaran terdalam yang bertuliskan titik God spot atau
titik tuhan. Penelitian yang telah dilakukan oleh neuro-psikolog Michael
Persinger awal tahun 1990-an, dan oleh Neurolog Ramachandran 1997 bersama
timnnya di Universitas California mengenai adanya “Titik Tuhan” (God Spot)
dalam otak manusia. Pusat spiritual yang terpasang ini terletak diantara
hubungan-hubungan syaraf dalam cuping-cuping temporal otak.
Lingkaran hitam yang mengelilingi titik putih atau god spot
merupakan belenggu yang menghalangi seseorang mencapai kebahagiaan sejati.
Lingkaran tersebut berupa prasangka-prasangka negatif, prinsip-prinsip hidup yang
salah, pengalaman-pengalaman yang membelenggu pikiran, egoisme kepentingan,
pembanding-pembanding yang subyektif dan belenggu-belengu fanatisme yang
menyesatkan.
Pembersihan God spot disebut Zero Mind Process,
yakni pembentukan hati dan pikiran yang jernih dan suci. Kemerdekaan berpikir
akan melahirkan pribadi-pribadi kreatif, berwawasan luas, terbuka, fleksibel,
mampu berpikir jernih dan God spot yang kembali bercahaya.
Manusia
menurut konsep ESQ adalah makhluk spiritual murni, yaitu makhluk yang ditiupkan
ruh-ruh spiritual ke dalam tubuh manusia. Sifat-sifat tersebut kemudian
dipadukan ke dalam materi konkret berupa tubuh atau jasad manusia yang terbuat
dari tanah. Pendapat ini dibuktikan dengan adanya penemuan ilmiah SQ oleh V.S
Ramachandran pada tahun 1997, lalu God Spot oleh Michael Persinger, Wolf
Singer, dan Rudolfo Llinnas tentang osilasi saraf spiritual. Para ahli tersebut
diatas berhasil membuktikan bahwa manusia memiliki makna tertinggi kehidupan
manusia (The Ultimate Meaning).
Ary
Ginanjar menegaskan bahwa penemuan God Spot pada manusia lebih
meyakinkan pendapat ini, karena akan senantiasa mencari Tuhan-nya, yaitu
melalui sifat-sifat-Nya, yang selalu diidam-idamkan manusia dan sekaligus
merupakan bukti keperkasaan Allah, serta penghambaan manusia.
Dengan bermodalkan Spritual Quotient (SQ), manusia mengabdi kepada
Allah untuk mengelola bumi sebagai khalifah dan misi utamanya semata-mata
mencari keridhaan Allah, target utamanya adalah menegakan keadilan, perdamaian
dan kemakmuran. Langkah nyatanya berupa spiritualisasi di segala bidang. Inilah
yang kemudian disebut sebagai aktualisasi diri melalui Ihsan.
Sifat-sifat
ini menurutnya termasuk kategori ihsan, atau menuju sifat-sifat Allah
(taqarub), yang terletak pada spiritual center (God Spot).
Nilai-nilai tersebut diikhtisarkan dari 99 Asmaul Husna yang merupakan proto
kesadaran yang terdeteksi pada osilasi Pare-Llinas, yang dianggap sebagai arketipe oleh
Zohar, yang diduga sebagai super-egooleh Freud, self-actualization oleh
Maslow, unconscious-mind oleh Carl Jung, dan dinamakan ”makna
hidup” oleh Frankl. Ia lalu menamakan nilai-nilai ini sebagai Asmaul
Husna Value System (AHVS) yang menghasilkan ultimate
value dan ultimate drive.
Angka
6 merupakan perwakilan dari enam warna yang pertama, yang mewakili dimensi
emosional atau emotional quotient (EQ). Pada tahun 1990, Daniel
Goelman menulis buku Emotional Intelligence. Goelman mengatakan bahwa
sangatlah sempit apabila keberhasilan seseorang hanya ditentukan oleh sebuah
entitas (besaran) yang disebut dengan kecerdasan intelektual. Ada entitas lain
yang lebih dominant dalam memberi kontribusi kesuksesan seseorang, yaitu apa
yang disebut kecerdasan emosional (EQ). EQ bekerja pada fungsi otak limbic
system, kecerdasan ini menunjukkan kemampuan seseorang dalam mengungkapkan
dan merasakan perasaan orang lain.
EQ adalah ketrampilan untuk mengenali dan mengelola
perasaan dan emosi diri sendiri maupun orang lain. Dimensi ini digambarkan
dengan warna pink yang bertuliskan Star Priciple. Kenapa
berwana pink dikarenakan pada Star Priciple kita dapat
mencintai Allah lebih dari mencintai apapun.
Kedua, digambarkan dengan warna biru Angel
principle menjelaskan tetap berbuat baik dimanapun kita berada meski
tanpa ada orang yang melihat. Warna biru melambangkan kedamaian.
Ketiga, Leadership
principle yang dilambangkan dengan warna hijau. Diharapkan kita dapat
mencontoh kepemimpinan Nabi Muhammad yang bersahaja, memaafkan dan sebagai suri
tauladan sehingga diikuti banyak orang. Cara atau langkah melakukan Leader
principle adalah (1) dicintai dengan membangun hubungan, (2) dipercaya
dengan integritas (3) diikuti dengan keluh kesah (4) Kader dengan membimbing
orang lain (5) Pemimpin abadi dengan Leave legacy atau
meninggalkan kebaikan atau manfaat.
Keempat,
kuning bertuliskan Learnig principle kita tetap belajar
seperti padi yang masak setiap berisi semakin merunduk, memegang teguh Al-quran
dan Al-hadis, serta memiliki prinsip seperti orang di budaya Jepang KAIZEN
(ambil yang baik dan tinggalkan yang bruk). Kelima, warna orange
bertuliskan vision principle, yang berarti kita harus memiliki visi
hidup kita. Maka kita harus memiliki long term vision (visi jangka
panjang) yaitu mati masuk surga dan bertemu dengan Allah; midterm
vision (visi jangka menengah), dan shorter vision (visi
jangka pendek) misalnya menyusun jadwal harian/kegiatan, shalat, mengaji,
bangun, mandi dsb. Dan yang terakhir warna merah bertuliskan Well
Orgenized Principle.Yaitu pengorganisasi yang baik dimana seorang leader
yang baik itu timbul dari nilai-nilai yang baik, kemudian system yang baik dan
lahirlah seorang pemimpin sejati.
Terakhir angka 5 yang menggambarkan dimensi Inteligensi
Quotient (IQ). ditemukan pada tahun 1905 di paruis prancis oleh Binet.
Kemudian dibawa ke AS di Universitas Stanford maka lahir disebut Stanfordbinet
dipergunakan pertama kali pada perang dunia I. Perangkat ini dibawa ke Amerika
untuk mengetes para calon tentara Amerika, dan selanjutnya diperkenalkan
keberbagai negara diseluruh dunia, termasuk Indonesia.
Dimensi ini IQ berisi lima perihal yang berhubungan
dengan raga (body), yaitu personal strange dan social
strang. Personal strange terdiri dari 3 macam kemampuan,
yaitu (1) Mission Statement, memiliki misi yaitu memberikan
rahmat melalui syyahadat, dan melakukan segala kegiatan karena Allah SWT semata
(lilahitaAlla). (2) Characther Building, dengan
menghidari diri dari perbuatan maksiat dan siplin diri. Komitmen ini dapat
dijaga dengan bersuci melakukan wudhu dan syalat, (3) Self Control, yaitu
mampu menguasai hawa nafsu. Kita sebaiknya melakukan control terhadap hawa nafu
berupa emosi dan lain sebagainya dengan isthigfar dan berpuasa. Sedangkan Social strange yaitu
kemampuan untuk berhubungan denga manusia lain. Untuk menumbuhkan rasa soial
hendakya kita melakukan (4) Strategic Collaboration, yaitu
saling memberi dan menerima. Strategi ini dapat dilakukan dengan mengerjakan
zakat, sedekah dan infak, (5) Total Action, yaitu
keseluruhan totalitas dari segala yang kita miliki hanya untuk Allah. Lakukan
yang terbaik do the best dan tawakal. Berhubungan dengan jika telah
mampu maka lakukanlah haji.
Dengan Zakat (Stategik
Collaboration), maka dalam keseharian kita, akan terbentuk tabiat atau
sifat atau kebiasaan sebagai berikut :
Kita akan mampu mengeluarkan semua potensi spiritual (core
values), yaitu dengan mempergunakan dan member system pendelegasian fitrah
(core values) semua sumber daya yang dipunyai untuk melakukan sinergi dalam
rangka mencapai sebuah tujuan secara efektif dalam tindakan seperti member
perhatian dan penghargaan kepada orang, memahami perasaan orang lain, menepati
janji yang sudah kita berikan, bersikap toleran, mau mendengarkan orang lain,
bersikap empati, menunjukkan integritas, menunujkkan sikap rahman dan rahim
kepada orang lain dan suka menolong orang lain;
Kita akan menciptakan investasi kepercayaan diantara kedua
belah pihak, mencairkan dan menghapus prasangka negative akibat perbedaan sudut
pandang, dan mengubahnya menjadi hubungan saling percaya dua arah yang
mendalam;
Kita akan dapat menciptakan investasi komitmen atau janji
dua arah yang mendalam;
Kita akan mampu membangun dan menciptakan landasan
kooperatif positif dan kondusif bagi terciptanya sebuah sinergi;
Kita akan mampu menciptakan investasi kredibilitas yang dibutuhkan
sebagai pondasi untuk melakukan aliansi dengan orang lain;
Kita akan mampu menciptakan investasi keterbukaan, empati
dan kompromi dalam berhubungan dengan orang lain.
C.
Total
Action (Pribadi Muslim)
Kepribadian
Muslim dapat dilihat dari kepribadian orang per orang (individu) dan
kepribadian dalam kelompok masyarakat (ummah). Kepribadian individu meliputi
ciri khas seseorang dalam sikap dan tingkahlaku, serta kemampuan intelaktual
yang dimilikinya. Karena adanya unsur kepribadian yang dimiliki masing-masing,
maka sebagai individu seorang Muslim akan menampilkan ciri khasnya
masing-masing. Dengan demikian akan ada perbedaan kepribadian antara seseorang
muslim dengan muslim lainnya. Secara fitrah perbedaan ini memang diakui adanya.
wur (#qç/tø)s? tA$tB ÉOÏKuø9$# wÎ)
ÓÉL©9$$Î/ }Ïd
ß`|¡ômr&
4Ó®Lym
x÷è=ö7t
¼çn£ä©r& ( (#qèù÷rr&ur
@øx6ø9$#
tb#uÏJø9$#ur
ÅÝó¡É)ø9$$Î/
( w
ß#Ïk=s3çR $²¡øÿtR wÎ)
$ygyèóãr ( #sÎ)ur
óOçFù=è%
(#qä9Ïôã$$sù öqs9ur
tb%2 #s 4n1öè%
( ÏôgyèÎ/ur
«!$#
(#qèù÷rr& 4 öNà6Ï9ºs
Nä38¢¹ur
¾ÏmÎ/ ÷/ä3ª=yès9
crã©.xs? ÇÊÎËÈ
152.
dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih
bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. dan sempurnakanlah takaran dan timbangan
dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada sesorang melainkan sekedar
kesanggupannya. dan apabila kamu berkata, Maka hendaklah kamu Berlaku adil,
Kendatipun ia adalah kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah. yang demikian itu
diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat.
) الأنعام:152 (
Potongan
ayat diatas mengandung intisari bahwa Islam memandang setiap manusia memiliki
potensi yang berbeda, hingga kepada setiap orang dituntut untuk menunaikan
perintah agamanya sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing.
Kalaulah
individu merupakan unsur terkecil dari suatu masyarakat, maka tentunya dalam
pembentukan kepribadian Muslim sebagai umat akan sulit dipenuhi. Beranjak dari
pernyataan tersebut, maka dalam upaya membentuk kepribadian Muslim baik secara
individu, maupun sebagai suatu ummah, adanya perbedaan tersebut bagaimana pun
tak mungkin dapat diletakkan. Dalam kenyataannya memang dijumpai adanya unsur
keberagaman (heterogenitas) dan homogenitas(kesamaan).
Maka
walaupun sebagai individu masing-masing kepribadian itu berbeda, tapi dalam
pembentukan kepribadian muslim sebagai ummah, perbedaan itu perlu dipadukan.
Sumber yang menjadi dasar dan tujuannya adalah ajaran wahyu.
$tBur
àMø)n=yz
£`Ågø:$#
}§RM}$#ur wÎ)
Èbrßç7÷èuÏ9 ÇÎÏÈ
)الذريّة(56:
Dasar
pembentukan adalah Al-Qur’an dan hadist, sedangkan tujuan yang akan dicapai
adalah menjadi pengabdi Allah yang setia, sebagai Tuhan yang wajib disembah.
Sedangkan pengabdian yang dimaksud didasarkan atas tuntutan untuk menyembah
kepada Tuhan yang satu : itulah dia Allah Tuhan kamu, tidak ada yang berhak
disembah selain dia. Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah dia
Pernyataan
wahyu ini merupakan kerangka acuan dalam pembentukan kepribadian Muslim sebagai
ummah. Acuan ini berisi pernyataan, bahwa setiap Muslim wajib menunjukkan
ketundukan yang optimal kepada zat yang menjadi sesembahannya. Dengan demikian
secara keseluruhan kaum muslimin mengacu kepada pembentukan sikap kepatuhan
yang sama imbasnya diharapkan akan terbentuk sifat dan sikap yang secara umum
adalah sama. Inilah yang dimaksud dengan kepribadian muslim sebagai ummah.
Kepribadian menurut Zakiah Daradjat (1980) disebut sebagai sesuatu
yang abstrak, sukar dilihat secara nyata, hanya dapat diketahui lewat
penampilan, tindakan dan ucapan ketika menghadapi persoalan, atau melalui
atsarnya saja.[5] Kepribadian mencakup semua unsure, baik fisik maupun psikis. Naik
atau tidaknya nilai kepribadian seseorang tentu saja didasari oleh ilmu
pengetahuan dan moral yang dimilikinya. Artinya, kepribadian akan turut
menetapkan apakah para guru dapat disebut sebagai pendidik yang baik atau
sebaliknya, justru menjadi perusak anak didiknya.
Alexander (1971) menyatakan : “No one can be a genuine teacher
unless he is himself actively sharing in the human attempt to understand men an
their word” secara tidak langsung, Alexander menyarankan agar guru dapat
memahami kesulitan yang dihadapi oleh muridnya dalam belajar.[6]
Guru sebagai teladan bagi murid-muridnya harus memiliki sikap dan
kepribadian yang utuh yang dapat dijadikan tokoh panutan idola dalam seluruh
segi kehidupannya. Kompetensi kepribadian yang menggambarkan etika profesi
menurut Slamet PH (2006) terdiri dari sub-kompetensi salah satunya adalah;
menunjukkan dan mempromosikan nilai-nilai, norma, sikap, dan perilaku positif
yang mereka harapkan dari peserta didiknya.
Guru yang professional adalah guru yang siap memberikan bimbingan
nurani dan akhlak yang tinggi kepada murid-muridnya. Karena bimbingan yang
diberikan bersumber dari ketulusan hati, maka guru benar-benar siap sebagai spiritual
father bagi muridnya.
Dengan demikian dapat ditegaskan bahwa kemuliaan hati seorang guru
diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Guru secara nyata dapat berbagi
dengan anak didiknya. Oleh karena itu Guru pantas menyandang gelar sebagai moeslim
total action artinya bahwa guru benar-benar sosok yang memiliki kepribadian
muslim yang sempurna. Hal ini dikarenakan guru memiliki daya kalbu yang tinggi
yang menampilkan kepribadian paripurna. Daya kalbu terdiri dari daya spiritual,
emosional, moral, rasa kasih sayang, kesopanan, toleransi, kejujuran, dan
kebersihan, disiplin diri, harga diri, tanggung jawab, keberanian moral,
kerajinan, komitmen, estetika, dan etika.[7]
Lalu bagaimana kiat agar menjadi pribadi yang unggul? Berikut ini
beberapa di antaranya :
Ø Percaya diri, yakinkan
bahwa kita ditakdirkan menjadi ummat terbaik, lakukan amal terbaik
Ø Bangun sistem yang kondusif
pilih lingkungan dan teman-teman yang berkualitas
Ø Mampu bersinergi
(berjamaah)
Ø Manajemen qalbu mampu
mengendalikan hati
Bangkitlah dan jangan ditunda-tunda lagi untuk menjadi seorang
pribadi muslim yang berprestasi, yang unggul dalam potensi yang telah
dianugerahkan Allah kepada setiap diri hamba-hamba-nya.
Dengan Pemahaman dan pengamalan Konsep Rukun Islam
yang Kelima yaitu Haji (Total Action), maka dalam keseharian
kita, akan terbentuk tabiat atau sifat atau kebiasaan sebagai berikut :
-
Kita akan
mampu memulai langkah mengosongkan pikiran dan suara hati kita (Zero Mind)
dengan melakukan Ihram;
-
Kita Kita akan
mampu melakukan evaluasi diri dan visualisasi gambaran masa depan atau wawasan
melalui pelaksanaan wukuf di Arafah;
-
Kita akan
mampu menghadapi tantangan yang selalu mengahadang melalui pelaksanaan lontar
jumroh;
-
Kita akan
mampu untuk mengasah komitmen atau janji dan integritas melalui Thawaf;
-
Kita akan
mampu untuk mengasah AQ (Adversity Quotient), yaitu kecerdasan kita dalam
mengatasi kesulitan dan sanggup bertahan hidup dengan melalui pelaksanaan sai;
-
Kita akan
mampu menyinergikan seluruh potensi umat melalui pelaksanaan hajiitu sendiri
oleh jemaah haji, termasuk diri kita.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari pembahasan
diatas, penulis dapat menyimpulakn isi makalah sebagai berikut:
·
Dalam Undang-Undang Nomor
20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan, bahwa guru adalah
: tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses
pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan,
serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi
pendidik pada perguruan tinggi.
·
Strategic Collaboration, yaitu
saling memberi dan menerima. Strategi ini dapat dilakukan dengan mengerjakan
zakat, sedekah dan infak,
·
Total Action, yaitu
keseluruhan totalitas dari segala yang kita miliki hanya untuk Allah. Lakukan
yang terbaik do the best dan tawakal. Berhubungan dengan jika telah
mampu maka lakukanlah haji.
Untuk
menjadi seorang yang sukses, tidak hanya dibutuhkan intelegensi yang tinggi
tapi juga kecerdasan emosi yang tidak hanya berorientasi pada hubungan antar
manusia semata tapi juga didasarkan pada hubungan manusia dengan Tuhannya.
Dengan demikian, manusia yang menyadari akan hakekat hidupnya sebagai makhluk
Allah, cara berpikirnya tidaklah hanya semata mengejar kebahagiaan dunia,
kepuasan material, kepuasan yang hanya sesaat. Dengan bimbingan hati nurani
atau ‘God Spot’ manusia akan berhasil menjadi seorang khalifah sesuai dengan
fitrahnya. Karena sesungguhnya dengan meningkatnya kecerdasan spiritual maka
kecerdasan emosi dan kecerdasan intelektualnyapun akan makin meningkat. Karena
Al-Quran telah mengajarkan keseimbangan di alam semesta.
DAFTAR PUSTAKA
Sagala, Syaiful.2009. Kemampuan Profesional Guru dan Tenaga
Kependidikan. Bandung : Alfabeta.
Usman Uzer,Moh.2009. Menjadi Guru Profesional. Bandung:
Remaja Rosdakarya.
[2] Neokorteks adalah bagian dari korteks
serebral (bersama dengan archicortex dan paleocortex - yang merupakan bagian
kortikal dari sistem limbik).
[3] Sistem limbik: Sistem limbik, sering disebut sebagai
"otak emosional", ditemukan terkubur di dalam otak besar. Seperti
otak kecil, evolusi struktur agak lama.
[4] bagian dari korteks serebral baik belahan otak
berbaring
di dalam kuil/batok kepala. Secara otomatis memori dalam
otak akan tersimpan didalamnya
Dengan Pemahaman dan pengamalan Konsep Rukun Islam
yang Ketiga yaitu Puasa (Self Controlling), maka dalam
keseharian kita, akan terbentuk tabiat atau sifat atau kebiasaan sebagai
berikut :
-
Kita akan
meraih kemerdekaan sejati, yaitu merdeka dan bebas dari berbagai belenggu yang mengungkung
titik Tuhan (God Spot/Spiritual Capital) kita;
-
Kita akan
dapat memelihara titik Tuhan (God Spot/Spiritual Capital) pada diri kita, yaitu
melindungi core values atau fitrah ruh ilahiah dan menjaga isi God
Spot/Spiritual Capital agar selalu tetap memiliki kejernihan hati dan
menghentikan bentuk penghambaan kepada selain Allah, sebagaimana disebutkan
dalam Hadis Qudsi “Seorang hamba akan mendekatkan diri kepadaku dengan puasa,
hingga aku mencintainya, dan bila aku mencintainya, menjadilah pendengaranku
yang digunakan untuk mendengar, penglihatanku yang digunakan untuk melihat,
tanganku yang digunakan untuk bertindak, serta kakiku yang digunakan untuk
berjalan”;
-
Kita
akan dapat mengendalikan suasana hati kita yang sangat berkuasa atas wawasan,
pikiran dan tindakan;
-
Kita akan
dapat meningkatkan kecakapan emosi (EQ) secara fisiologis, hal ini dibuktikan
oleh penelitian yang dilakukan oleh Daniel Goleman tarhadap anak-anak tk di
Stanford USA;
-
Kita akan
dapat mengendaliakn prinsip Rukun Iman (EQ), yaitu pengendalian pikiran dan
hati agar tetap berada pada garis orbit yang telah digariskan dalam prinsip
berpikir berdasarkan Rukun Iman;
Dengan Pemahaman dan pengamalan Konsep Rukun Islam
yang Keempat yaitu Zakat (Stategik Collaboration), maka dalam
keseharian kita, akan terbentuk tabiat atau sifat atau kebiasaan sebagai
berikut :
- Kita akan mampu mengeluarkan semua
potensi spiritual (core values), yaitu dengan mempergunakan dan member system
pendelegasian fitrah (core values) semua sumber daya yang dipunyai untuk
melakukan sinergi dalam rangka mencapai sebuah tujuan secara efektif dalam
tindakan seperti member perhatian dan penghargaan kepada orang, memahami
perasaan orang lain, menepati janji yang sudah kita berikan, bersikap toleran,
mau mendengarkan orang lain, bersikap empati, menunjukkan integritas,
menunujkkan sikap rahman dan rahim kepada orang lain dan suka menolong orang
lain;
- Kita akan menciptakan investasi
kepercayaan diantara kedua belah pihak, mencairkan dan menghapus prasangka
negative akibat perbedaan sudut pandang, dan mengubahnya menjadi hubungan
saling percaya dua arah yang mendalam;
- Kita akan dapat menciptakan
investasi komitmen atau janji dua arah yang mendalam;
- Kita akan mampu membangun dan
menciptakan landasan kooperatif positif dan kondusif bagi terciptanya sebuah
sinergi;
- Kita akan mampu menciptakan
investasi kredibilitas yang dibutuhkan sebagai pondasi untuk melakukan aliansi
dengan orang lain;
- Kita akan mampu menciptakan
investasi keterbukaan, empati dan kompromi dalam berhubungan dengan orang lain.
Dengan Pemahaman dan pengamalan Konsep Rukun Islam
yang Kelima yaitu Haji (Total Action), maka dalam keseharian
kita, akan terbentuk tabiat atau sifat atau kebiasaan sebagai berikut :
-
Kita akan
mampu memulai langkah mengosongkan pikiran dan suara hati kita (Zero Mind)
dengan melakukan Ihram;
-
Kita Kita akan
mampu melakukan evaluasi diri dan visualisasi gambaran masa depan atau wawasan
melalui pelaksanaan wukuf di Arafah;
-
Kita akan
mampu menghadapi tantangan yang selalu mengahadang melalui pelaksanaan lontar
jumroh;
-
Kita akan
mampu untuk mengasah komitmen atau janji dan integritas melalui Thawaf;
-
Kita akan
mampu untuk mengasah AQ (Adversity Quotient), yaitu kecerdasan kita dalam
mengatasi kesulitan dan sanggup bertahan hidup dengan melalui pelaksanaan sai;
-
Kita akan
mampu menyinergikan seluruh potensi umat melalui pelaksanaan hajiitu sendiri
oleh jemaah haji, termasuk diri kita.
Dalam pelaksanaannya,
untuk membangun pribadi tangguh ada tiga langkah sukses yaitu :
1. Penetapan Misi (Mission Statement) – Mengucapkan Dua Kalimat Syahadat
a. Membangun misi kehidupan
b. Membulatkan tegad
c. Membangun visi
d. Menciptakan wawasan
e. Transformasi visi
f. Komitmen total
2. Pembangunan karakter (Character building) – Ibadah Sholat
a. Relaksasi
b. Membangun kekuatan afirmasi
c. Meningkatkan ESQ
d. Membangun pengalaman positif
f. Pembangkit dan penyeimbang energi bathiniyyah
g. Pengasahan prinsip
3. Pengendalian diri (Self Controlling) – Ibadah Shaum
a. Meraih kemerdekaan sejati
b. Memelihara fitrah
c. Mengendalikan suasana hati
1. Penetapan Misi (Mission Statement) – Mengucapkan Dua Kalimat Syahadat
a. Membangun misi kehidupan
b. Membulatkan tegad
c. Membangun visi
d. Menciptakan wawasan
e. Transformasi visi
f. Komitmen total
2. Pembangunan karakter (Character building) – Ibadah Sholat
a. Relaksasi
b. Membangun kekuatan afirmasi
c. Meningkatkan ESQ
d. Membangun pengalaman positif
f. Pembangkit dan penyeimbang energi bathiniyyah
g. Pengasahan prinsip
3. Pengendalian diri (Self Controlling) – Ibadah Shaum
a. Meraih kemerdekaan sejati
b. Memelihara fitrah
c. Mengendalikan suasana hati
d. Meningkatkan kecakapan emosi secara
fisiologis
e. Pengendalian prinsip
Membangun Ketangguhan Sosial (Social Strength)
Sementara 3 rukun Islam yang pertama yaitu membaca 2 kalimat syahadat, ibadah sholat dan shaum dapat membangun ketangguhan pribadi, maka ibadah zakat dan ibadah haji dapat membangun ketangguhan sosial. Berikut ini adalah 2 langkah sukses membangun ketangguhan sosial.
1. Sinergi (Strategic Collaboration) – Ibadah zakat
a. Investasi kepercayaan
b. Investasi komitmen
c. Membangun landasan koperatif
d. Investasi kredibilitas
e. Investasi keterbukaan, empati, dan kompromi
2. Aplikasi Total (Total action)
a. Langkah zero mind – Ihrom
b. Pengasahan komitmen dan integritas – Thawaf
c. Pengasahan Adversity Quotient (AQ) – Sa’i
d. Evaluasi dan visualisasi - - Wuquf
e. Hadapi tantangan – Lontar jumroh
f. Sinergikan – Jamaah haji
e. Pengendalian prinsip
Membangun Ketangguhan Sosial (Social Strength)
Sementara 3 rukun Islam yang pertama yaitu membaca 2 kalimat syahadat, ibadah sholat dan shaum dapat membangun ketangguhan pribadi, maka ibadah zakat dan ibadah haji dapat membangun ketangguhan sosial. Berikut ini adalah 2 langkah sukses membangun ketangguhan sosial.
1. Sinergi (Strategic Collaboration) – Ibadah zakat
a. Investasi kepercayaan
b. Investasi komitmen
c. Membangun landasan koperatif
d. Investasi kredibilitas
e. Investasi keterbukaan, empati, dan kompromi
2. Aplikasi Total (Total action)
a. Langkah zero mind – Ihrom
b. Pengasahan komitmen dan integritas – Thawaf
c. Pengasahan Adversity Quotient (AQ) – Sa’i
d. Evaluasi dan visualisasi - - Wuquf
e. Hadapi tantangan – Lontar jumroh
f. Sinergikan – Jamaah haji
Tidak ada komentar:
Posting Komentar