BAB
II
PEMBAHASAN
ALIRAN
PSIKOLOGI GESTALT
A. Pengertian
Aliran Gestalt
Agak sulit memang untuk menerjemahkan istilah Gestalt ke
Dalam bahasa lain. Gestal berasal dari bahasa Jerman, yang dalam bahasa Inggris
berarti form, shape, configuration, whole ; dalam bahasa Indonesia
berarti “bentuk” atau “konfigurasi”, “hal”, “peristiwa”, “pola”, “totalitas”
atau “bentuk keseluruhan”.
Berbagai istilah bahasa Inggris telah dicoba untuk
menerjemahkan istilah Gestalt ini, antara lain Shape Psychology
(diajukan oleh Spearman) dan Configurationism (diajukan oleh Titchener).
Namun, istilah-istilah tersebut rupanya tidak “pas”; dalam arti, tidak bias
menggambarkan artii yang sesungguhnya dari istilah itu dalam bahasa Jerman.
Sebab itu, istilah Gestalt tetap digunakan sebagaimana adanya dalam
bahasa Inggris dan juga oleh kalangan para ahli psikologi di Indonesia.
Koffka
berpendapat bahwa psikologi gestalt adalah psikologi pertumbuhan. Dia
menyelidiki asas-asas pertumbuhan dalam psikologi anak. Juga mempelajari
pertumbuhan gestalt yang mula-mula sangat sederhana menjadi gestalt yang
sempurna seperti terdapat pada orang dewasa.[1]
Kohler
menguraikan tentang perbuatan seekor simpanse dalam rangka menyelidiki
kecerdasan binatang. Dengan percobaan itu Kohler mengatakan bahwa peristiwa
terjadinya hubungan antara simpanse - - tongkat - - pisang merupakan suatu
gestalt.
B. Tokoh-tokoh Aliran Gestalt
Aliran ini pertama kali muncul pada
tahun 1912 yang didirikan oleh Max Wertheimer (1880-1943) yang pernah menjadi
murid Oswald Kulpe di Wurzburg dan mendapat gelar doktornya disana pada tahun
1904. Dan pada waktu itulah ia mulai tertarik pada satu aliran filsafat yang
terutama mempejari tentang fenomena (gejala) yang lebih dikenal dengan aliran
fenomologi. Kemudian aliran Gestalt ini dikembangkan oleh Kurt Koffka
(1886-1941) dan Wolfgang Kohler (1887-1967) .
Aliran ini muncul sebagai bentuk kritik terhadap teori-teori
yang berlaku di Jerman sebelumnya terutama teori strukturalisme dari Wilhelm
Wundt, yang khususnya mempelajari proses penginderaan dianggap terlalu
elemenistik (terlalu mengutamakan elemen atau detail). Padahal persepsi manusia
terjadi secara menyeluruh dan terorganisasikan, tidak secara parsial atau
sepotong-sepotong. Menurut Wertheimer ketika sebuah melodi terdengar
(dipersepsi), sebuah kesatuan dinamis atau keutuhan muncul dalam persepsi. Akan
tetapi nada tersebut dalam dirinya sendiri menyebar dan saling bergantian dalam
urutan waktu tertentu. Urutan waktu itu diubah maka Gestalt-nya turut
berubah. Dalam hubungan ini, Sarlito Wirawan Sarrwono mencontohkan dengan lagu
“Bengawan Solo”. Sebuah lagu “Bengawan Solo”, kata Sarwono, ” tetap terdengar
sebagai lagu Bengawan Solo (bukan sebagai lagu lain) selama nada-nada
dibunyikann dalam keteraturan tertentu, walaupun tangga nadanya diganti atau
irama atau orkes pengiringnya berlain-lainan. Jadi menurut aliran ini yang
utama bukanlah elemen akan tetapi keseluruhan. Kesadaran dan jiwa manusia tidak
mungkin dianalisi kedalam elemen-elemen. Gejala kejiwaan harus dipelajari
sebagai suatu keseluruhan atau totalitas. Keseluruhan adalah lebih dari sekedar
penjumlahan unsur-unsurnya, lebih dahulu ditanggapi dari bagian-bagiannya dan
bagian-bagian itu harus memperoleh makna dari keseluruhan. Arti dari Gestalt
tergantung pada unsur-unsurnya, sebaliknya arti unsur-unsur tergantung pada
Gestalt.
Eksperimen Gestalt pertama, menurut Atkinson dan kawan-kawan
adalah mempelajari gerakan, terutam Fenomena Phi. Jika dua cahaya dinyalakan
secara berurutan, subjek melihat cahaya tunggal bergerak dari posisi cahaya
pertama kecahaya kedua. Fenomena gerakan ini telah banyak diketahui tetapi ahli
psikologi Gestalt menangkap kepentingan teoritis pola stimuli dalam menghasilkan
efek. Pengalamn kita tergantung pada pola yang dibentuk oleh stimuli dan pada
organisasi pengalaman. Menurut mereka apa yang kita lihat adalah relatif
terhadap latar belakang, dengan aspek lain dari keseluruhan. Keseluruahn
berbeda dengan penjumlahan bagian-bagiannya; keseluruahn terbagi atas bagian
dari suatu hubungan.
Menurut psikolog Gestalt, manusia tidak memberikan respon
pada stimuli secara otomatis. Manusia adalah organisme aktif yang menafsirkan
dan bahkan mendistorsi lingkungan. Sebelum memberikan respon, manusia menangkap
dulu ‘pola” stimuli secara keseluruhan dalam satuan-satuan yang bermakna. Pola
ini disebut Gestalt. Huruf “1” akan dianggap sebagai angka satu dalam rangkaian
“1,2,3” tetapi menjadi huruf “el” dalam rangkaian “k,l,m,n”. manusialah yang
menentukkan makna stimuli itu, bukan stimuli itu sendiri.
Pada mulanya, psikologi Gestalt hanya menaruh perhatian pada
persepsi objek. Beberapa orang menerapkan prinsip-prinsip Gestalt dalam
menjelaskan perilaku sosial. Diantara mereka adalah Kurt Lewin, Solomonn Asch
dan Fritz Heider.
Kurt Lewin mengembangkan psikologi Gestalt dengan
mengemukakan teorinya sendiri yang dinamakan psikologi lapangan. Dengan teorinya,
ia mencoba menjelaskan apa yang terjadi dalam jiwa seseorang, sehingga terjadi
persepsi dan perilaku yang bersifat menyeluruh.
Tokoh-tokoh aliran ini terbagi dalam dua kelompok besar
yaitu ahli-ahli psikologi Jerman dan Austria terbuka seperti, Rudolf Allers,
Magda Arnold, Charlotte, Solomon Asch, Kurt Levin, Karl Buhler, Albin Gilbert,
Hans Hahn, Fritz Heider, Martin Scheerer Wilhelm Stern, dan Heinz Werner.
C.
Macam-macam Aliran
Gestalt
Aliran-aliran
gestalt itu dibagi menjadi dua:
1. Aliran berlin
Tokoh:
Wertheimer Koffka merumuskan teori gestalt dengan cara modern. percobaan yang
dijalankannya adalah mengenai pengamatan dan penglihatan. Dalam bukunya yang
berjudul Ueber Gestalt Theory Wertheimer mengemukakan asas-asas teory
gestalt sebagai berikut:
a. Jumlah
Garis-garis ini
merupakan unsur. Kalau garis-garis ini di tempatkan berjajar empat, maka
keempat garis itu merupakan jumlah. Jadi jumlah merupakan kesimpulan dari
beberapa unsur.
b.
Kompleks
Kita
menempatkan empat potong garis berjajar dan empat potong garis lengkung yang masing-masing
merupakan seperempat lingkaran. Akhirnya terdapat 2 kelompok jumlah, yakni
jumlah garis lurus lengkung. Tiap-tiap golongan mempunyai ciri jumlah. Dalam
penggabungan terdapat barang baru yakni kompleks. Kompleks merupakan kumpulan
dari beberapa jumlah yang belum tersusun.
c.
Struktur
Keempat
garis tersebut ditempatkan denagan cara tersusun. Dalam susunan ini ada
hubungan tertentu. Melihat susunan unsur-unsur itu orang tidak akan melihat
garis-garis sebagai unsur satu per satu, dan tidak akan membilang
unsur-unsurnya satu demi satu, melainkan menemukan
suatu susunan tertentu. Susunan dari suatu jumlah unsur itu disebut
struktur/bentuk.
d.
Gestalt
Kalau
keempat garis lengkung seperempat lingkaran itu kita tempatkan sebagaimana
mestinya dengan cara tertentu, maka terjadilah suatu gestalt seperti pada tampak
pada gambar. Kumpulan garis lengkung ini bukan lagi sebagai sebagai jumlah kompleks atau struktur, tetapi
mewujudkan gestalt (lingkungan) yang mempunyai sifat-sifat tertentu.
e.
Gestalt tersusun
Kalau
empat garis dan empat garis lengkung tadi kita jadikan satu, akan terlihat
bahwa ada barang baru yang lain sekali dengan jumlah garis dan jumlah garis
lengkung. Ini merupakan gestalt tersusun, yakni susunan dari struktur dan
gestalt dalam suatu bentuk yang berarti.
2. Aliran Leipzig
Pendapat-pendapat
aliran leipzig:
a.
Dalam tiap-tiap pribadi sebagai suatu ganzheit hidup
(kejiwaan) suatu pendorong untuk mempersatukan. Dengan adanya dorongan itu
orang tidak pernah menerima bagian-bagian tersendiri. Segala sesuatu
diterimanyaoleh keseluruhan batinnya dalam bentuk keseluruhan.
b.
Kesatuan hidup
kejiwaan terutama terletak pada perasaan. Segala sesuatu yang pada suatu ketika
ada dalam alam kejiwaan tersembunyi, sebab di dalam perasaan terkandung seluruh
hidup kejiwaan.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari pemaparan
diatas dapat penulis simpulkan bahwa aliran Gestalt menyatakan persepsi manusia
terjadi secara menyeluruh bukan sepotong-potong atau parsial. Dan menurut
aliran ini yang utama bukanlah elemen akan tetapi keseluruhan. Kesadaran dan
jiwa manusia tidak mungkin dianalisi kedalam elemen-elemen. Gejala kejiwaan
harus dipelajari sebagai suatu keseluruhan atau totalitas. Keseluruhan adalah
lebih dari sekedar penjumlahan unsur-unsurnya, lebih dahulu ditanggapi dari
bagian-bagiannya dan bagian-bagian itu harus memperoleh makna dari keseluruhan.
Arti dari Gestalt tergantung pada unsur-unsurnya, sebaliknya arti unsur-unsur
tergantung pada Gestalt.
B.
Saran-saran
1.
Kita harus
lebih bijak dalam menyikapi perilaku seseorang, ketika nampak lahir orang
tersebut buruk belum tentu batinnya juga demikian.
2.
Kita harus
memformulasikan pendapat-pendapat para pakar psikologi khususnya untuk aliran
Gestalt dalam menyokapi orang lain.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu dan M. Umar.1992.Psikologi
Umum (Edisi Revisi).Surabaya:PT Bina Ilmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar